Senin, 24 April 2017

Ingin Menikmati Aneka Produk Olahan Susu, Ke Cimory Semarang Aja

Dwipracaya.com | Hari Ahad, 23 April 2016 tempat bekerjaku, Fingerspot Jogja berwisata ke Semarang. Ya, anggap saja acara ini untuk sekedar refreshing dari rutinitas pekerjaan. Semua keluarga diajak agar suasana tambah meriah dan kompak. Lebih kurang ada 31 an orang ikut ke dalam bus. Kami mempercayakan untuk busnya memakai jasa Semut Ireng.

Maskot Patung Sapi Perah Cimory on the Valley

Parahnya pada waktu hari H, saya malah membuat peristiwa yang tak akan dilupakan sepanjang sejarah Fingerspot Jogja. Saya super terlambat, ketika mau berangkat. Menjadi peserta terakhir yang datang ke kantor Fingerspot, namun tempat parkir bus ada di barat SPBU Jogokaryan tempat berkumpulnya peserta wisata.

“Wah, maaf banget semuanya sorry tenan. Jujur pada pagi itu, itu adalah peristiwa memalukan buat saya, yah terlambat tingkat dewa. Sekali lagi maafkan yak? Besok saya ulangi, eh tidak akan saya ulangi.” Bagaimana tidak terlambat super dewa, target jam 05.30 wib berangkat, peserta sudah datang, eh saya berangkat dari rumah jam 5 pagi lebih. Haha, kalau ingat kejadian pagi itu buat saya malu saja.  Ah… sudahlah!”

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi cerita ke tempat wisata terkenal di Semarang, ya ibukota Jawa Tengah. Daerah yang terkenal dengan nyanyian Didi Kempot,

 “Semarang kaline banjir, arep nyabrang wedi klintir.”
Saya akan mereview tempat wisata yang lagi booming di media social, Cimory on the Valley sebuah restoran, mini agro wisata, kebun binatang, supermarket aneka produk susu, chocolate shop, yoghurt shop. Penggemar yoghurt dan susu murni tentu akan ingat dengan produk Cimory karena produk ini selalu tersedia di lemari pendingin mini market di kota-kota Anda. Selain memproduksi berbagai produk dari olahan susu, maka Cimory  juga memiliki beberapa restoran. Cimory on the Valley adalah salah satu outletnya yang cukup ramai pengunjung.

Cimory on the Valley Bawen Semarang

Apa itu Cimory?
Kata Cimory sekilas bila mendengar nama ini mungkin akan berpikiran, bahasa dari negara Jepang gitu yak? Eit tapi bukan dari Negara Jepang loh. Cimory merupakan singkatan dari Cisarua Mountain Dairy, didirikan oleh Budi Sutanto. Cimory semula dibangun untuk menampung produksi susu sapi para peternak sapi di daerah Cisarua Bogor. Dalam perjalanan waktu Cimory membuka lini usaha berupa outlet agro wisata dan restaurant. 

Outlet pertama adalah Cimory Montain View di dekat Taman Safari, outlet kedua Cimory Riverside View masih berada di sekitar Taman Safari juga. Lalu cabang untuk ketiganya adalah Cimory on the Valley di Bawen Semarang. Untuk di wilayah Jogja juga ada outletnya namun tidak sebesar ketiga outlet yang saya sebutkan di atas. Saya yakin pasti Cimory sebentar lagi akan ditemukan di banyak kota-kota besar, mengingat atensi pendatang yang datang di outlet Cimory on the Valley Semarang contohnya,

 Super mbudak!


Cimory on the Valley Semarang
Cimory on the Valley  Restaurant dan Milk Factory beralamatkan di Jl. Raya Soekarno –Hatta km 30, Kecamatan Bregas, Kabupaten Semarang. Telepon (024) 6921818 terletak di lokasi perbukitan, orang mayoritas lebih suka menyebut tempat wisata ini dengan sebutan Cimory Bawen Semarang. Mengingat lokasi Cimory ini berada di Bawen Kota Semarang.

Dari Semarang Anda bisa masuk Tol ke Tembalang – Ungaran - Bawen. Dari pintu tol berbelok kanan (berbalik ke arah Semarang sekitar 4 km). Bisa juga tanpa melewati tol, dari Semarang menyusuri jalan ke Ungaran - Bawen. Anda akan menjumpai baliho super besar di sebelah kiri jalan. Kalau dari arah Yogya - Semarang tentu sebaliknya, di sebelah kanan. Baliho tulisan Cimory on the Valley terlihat besar sekali, pasti akan terlihat, persis di pinggir jalan raya.

Ada apa saja di Cimory on the Valley?

Setelah memasuki area parker (pakai bus Rp 15.000) pengunjung akan memasuki pintu gerbang. Otomatis akan disambut dengan ikon patung Cimory on the Valley. Sebuah patung sapi sedang berdiri berpose cakep menyambut para pengunjung yang baru datang. Tempat ini adalah ikon utama Cimory on the Valley Bawen, jadi tak heran Anda jika mau berfoto ria, biasanya nunggu giliran, biasa ngantri dahulu. Masuk ke area agro wisata di dalam, beli tiket masuk dahulu Rp15.000 per dewasa, akan mendapatkan gelang masuk dan sebuah kartu. Kartu ini nantinya bisa ditukar dengan salah satu produk aneka olahan Cimory di dalam. Biasanya dalam bentuk minuman susu kotak atau yoghurt.

Kartu Pengambilan Produk
Minuman Yoghurt 

Menuruni anak tangga, akan melihat konsep taman hiburan dengan area persawahan yang sudah disulap menjadi tempat sejuk dan rapi. Ada pepohonan rindang di area taman membuat panas terik mentari sedikit berkurang. Nuansa khas pedesaan akan terasa jika Anda masuk ke area outbond/ area ke dalam Cimory on the Valley. Ada juga tulisan Cimory dari rumput nan hijau, dan dibawahnya ada wahana jungkat-jungkit untuk anak dan dewasa. Gratis digunakan, tinggal dipakai saja sepuasnya. Ada juga bangunan air mancur, yang diberi pagar melingkar dengan aksen kolam tempat ikan besar. Sejenis ikan Dragon Fish, ikan besar seperti itulah penafsiran yang bisa saya peroleh.  Tempatnya bersih dan tertata rapi, cocok untuk keluarga yang ingin bermain ria dengan anak-anaknya. Yah, untuk sekedar refreshing tempat ini sangat disarankan sekali.

Spot yang menarik bukan?
Spot menarik untuk diabadikan
Banyak wahana permainan di area dalam Cimory on the Valley

Bagian dalam ada spot yang lebih kece
Rapi bersih dan teratur
Bisa narsis ria bersama sahabat gokil

Spot Cimory Farm

Disini aka nada edukasi kepada para pengujung melihat langsung peternakan sapi, memproses dan mengolah susu sapi menjadi produk olahan. Ada juga Cimory yang menyediakan program kunjungan untuk yang ingin berwisata ternak di Cimory. Minimal pengunjung grupnya adalah 20 orang. Dan bonusnya sudah bisa langsung memerah susu sendiri. Biasa untuk kelas pelajar ini? Waktu saya pas kesana karena pas hari libur jadi cukup melihat sapi dan memberi makan saja. Kalau mau untuk melihat pabrik pengolahan susu dari informasi yang saya dapat lebih kurang 25 pengunjung.

Masuk saja menuruni anak tangga akan masuk ke area persawahan yang sudah disulap menjadi agro wisata atau area outbond. Belok kanan nanti akan ada kandang iguana. Ada 3(tiga) ekor iguana waktu itu pas kesana, di depannya ada sapi perah dengan kandangnya yang cukup bersih. Pengunjung bisa langsung memegang sapi perah dengan warna khas ‘plontheng hitam dan putih. Pengunjung bisa juga memberikan makan.

Sapi perah yang dikandangkan
Waktu itu satwa yang saya temui ada kelinci dengan kandang cantiknya, ayam kalkun, burung merak, rusa dengan kandang di sebelah kandang sapi perah. Ada yang menarik ketika saya mengunjungi lokasi tersebut. Ada sejumlah merpati berbulu putih bersih uniknya bentuknya berbeda dengan merpati di daerah Jogja agak pendek sedang asyik mencari makan di area Tersebut. Sangat jinak sekali, karena sewaktu saya dekati bareng teman kantor, merpatinya tidak buru-buru terbang. Malah semakin mendekat dengan pengunjung.

Burung merak yang cantik
Rusa yang sedang makan wortel
Di depan kandang kelinci

Masuk ke dalam lagi ada pijakan kaki untuk melintas, ada tulisan Cimory besar memanggil saya untuk mengabadikannya. Spotnya bagus untuk sekedar berfoto ria. Apalagi pas kesana pagi hari jadi cocok sekali untuk menjadikan foto di instagram. Warna alami serba hijau dengan rumput masih basah, pepohonan juga banyak di sana-sini. Perlahan seberkas cahaya mentari menyeruak ke area Cimory on the Valley. Menambah cantik saja background foto jika diabadikan. Perfect!

Banyak spot foto di Cimory untuk sekedar mencoba kamera Smartphone dan kamera DSLR. Nuansa khas perbukitan nan serba hijau tentu akan sangat cantik diabadikan di dalam smartphone atau kamera DSLR.

Kulakan DP ah? Siapa takut?”

Restauran Cimory on the Valley

Karena Cimory identik olahan khasnya berasal dari olahan susu sapi dan yoghurt.  Tentu pilihan menu , Yoghurt, Ice Jelly Yoghurt, Fresh Milk Strawberry Jelly, Fresh Milk Coffee, dan Mocca Jelly.
Untuk menu kudapan dan makanannya siomay dan udang ayam. Ada juga menu kentang gorengnya. Harga untuk makanan cukup di atas rata-rata. Kisaran 25-30 Ribu. Namun jika anda mau memesan bersiap-siap untuk menunggu waktu agak lama. Mengingat pelayanan di Cimory cukup lama alias lambat. Ya, sekedar menunggu makanan siap saji kita bisa foto dan menikmati pemandangan area outbond di bawah. Menarik bukan?Tertarik mau datang mencoba Cimory on the Valley?

Restaurant dari samping via via wisatasenibudaya.com
Restaurant dilihat dari bawah via wisatasenibudaya.com
Via seputarsemarang.com

Waktu yang tepat ke Cimory on the Valley

Waktu yang tepat untuk menikmati area outbond adalah pagi hari, agar bisa menikmati suasana khas perbukitan dengan udara perbukitan nan sejuk. Melihat view pemandangan area Cimory di atas restaurant, sambil melihat para pengunjung di bawah yang sedang asyik berfoto ria, ada yang selfie, wefie dan sekedar memfoto objek saja.

Fingerspot Jogja! MANTAP!
Dengar, Lihat, dan Rasakan (dipa)


Kamis, 20 April 2017

Gowes Santai ke Watu Gupit dan Bukit Paralayang Tempat Para Sunset Hunter di Jogja

Menanti Senja di Bukit Paralayang
Dwipracaya.com | Berawal dari sebuah keisengan siang itu saya mencoba mem’whatsapp mas Widodo. Partner di kampung Kiringan yang sering Gowes bareng. Kebetulan di kampung kami baru kami berdua saja senang ‘mancal pedal sepeda.

Saya bertanya pada mas Widodo? Kalau nanti sore sudah ada acara? Libur kah?

Pada waktu itu jawaban mas Widodo, Ya coba nanti sore kalau tidak ada acara dadakan yak? Lumayan jawabannya memberikan sebuah harapan. Ya harapan untuk saya ajak Gowes ke tempat yang saya idam-idamkan ketika belum punya sepeda waktu itu. Sekarang sudah punya sepeda, tentunya tinggal melaksanakan janji dalam hati. Yap, tepat tujuannya adalah Bukit Paralayang. Bukit Paralayang Giricahyo masih merupakan daerah kawasan wisata Kabupaten Gunungkidul, hanya saja letak lokasi tempat berada di perbatasan antara Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Gunungkidul. Dinamai Bukit Paralayang karena tempat ini sering dipakai untuk olahraga Terjun Tandem Paralayang, makanya masyarakat lebih suka menyebut tempat ini dengan nama Bukit Paralayang. Itulah tempat sore itu yang ingin saya kunjungi bareng mas Widodo.

Bakda sholat ashar, lebih kurang jam 15.30 wib mas Widodo sudah standby depan rumahku. Dengan sepeda Polygon warna merah dengan kombinasi warna putih. Dengan tambahan aksesories tempat kamera dibawah ‘sadle, dan ditambah ‘slebor warna item dibawah ‘frame. Wah…makin cakep saja ini sepeda, gumamku dalam hati.

Sepeda saya sudah disiapkan sejak pagi tadi, iseng saya tanya pada mas Widodo?

Pie, mas trek e lumayan, adoh?

Jawabnya, lumayan broe nanjakke! Wah, seketika pikiranku dah membanyangkan jika trek yang akan dilalui adalah medan yang berat dengan jalanan rusak belum beraspal. Haha, imajinasiku mulai berputar-putar tak jelas.

Sepakat saya dan mas Widodo berangkat menuju Bukit Paralayang tempat ‘so sweet kala senja datang. Melewati pasar Pundong, lurus saja ada perempatan pertama belok kiri. Lurus saja sampai melewatii jembatan Soko (jembatan warna hijau kombinasi dengan kuning). Jembatan lurus saja sampai di pertigaan  selatan jembatan Kretek Parangtritis. Lurus ikuti jalan menuju ke arah pantai Parangtritis, lurus ikuti jalan saja. Jalanan sudah beraspal super halus.

Sampailah pada tanjakan pertama setelah menuju Pantai Parangtritis habis. Rupanya saya menemukan tantangan untuk kali pertama. Waktu itu saya kira hanya dengan memakai gigi besar untuk gear depan tanjakan bisa teratasi, terus dengan gigi gear belakang paling atas tanjakan bisa dilewati. Ternyata saya keliru dalam mempredisikan pengoperan gigi sepeda. Saya tak kuat dalam menaklukan tanjakan pertama. Wah…parah!

Mas Widodo sudah memiliki pengalaman dalam menaiki trek menajak langsung ngacir saja seperti keadaan melewati trek normal saja, sementara saya dibelakang sempat berhenti sebentar untuk memindah gigi gear depan secara manual, karena telat oper gigi jadi ngancing.

 Wah…kurang pengalaman ini? Jam terbang masih sangat kurang sekali!
Berhenti sebentar sambil minum air mineral yang dibawa dan membenahi gear bagian belakang yan sempat ngancing. Sekarang setelan sudah berada di gear nomer 1 gear kecil sendiri, lalu gear bagian belakang saya kombinasikan pada gear yang paling besar sendiri. Keadaan ini spesialis kalau naik tanjakan ke atas. Perlahan saya mulai menanjak dengan tetap menggenjot pedal agar sampai ke ujung tanjakan. Sebelum sampai di jalan pertigaan, ada tempat untuk beristirahat belokan ke arah situs CandiiGembirowati dan Bukit Paralayang saya dipaksa berhenti. Masih tidak kuat juga rupanya. Nafas saya sudah mau habis, ‘ngos-ngossan.

Wah…embek…saya tidak kuat! Saya nyerah neh!
Terpaksa sepeda saya tuntun saja, digandeng mesra sambil kembali mengatur napas lagi.
Edan luar biasa tenan tanjakannya. Dari jauh saya melihat mas Widodo sudah duduk sambil minum air yang di bawa melihat saya sudah hampir mati kehabisan napas. Hihi…wah resiko kalo Gowes sama pemula ya seperti ini. Sori yo mas Wid, saya buat menunggu, gumamku dengan rasa pede alias pasang muka tidak bersalah.

Papan Nama Puncak Paralayang dan Watu Gupit

Sambil isitrahat dan mengobrol, tentang tips kalau menanjak tanjakan seperti yang barusan dilalui. Saya bertanya lagi, masih nanjak lagi mas Wid? Saya bertanya? Iya masih ada tanjakan lagi.

Wah…wah…mulai sedikit ada rasa was- was, ini nanti bisa sampai ditujuan gak ya?
Langsung perlahan-lahan saya mencoba menggenjot sepeda lagi, targetnya adalah sampai di puncak Bukit Paralayang, pelan-pelan tak apa asal sampai itulah tujuannya.

Sampailah di tanjakan kali kedua, tanjakan sebelum ke arah Candi Gembirowati. Wah..tanjakannya tinggi sekali, saya tak mengira kalau bakal terlihat tinggi seperti ini. Singkatnya saya sudah pernah lewat jalan ini ketika ke Candi Gembirowati dan melewati tanjakan ini, namun memakai sepeda motor. Sekarang dengan menggunakan sepeda tak mengira akan setinggi ini, ternyata kalau memakai sepeda itu lebih bisa mengerti tingkat ketinggian. Nah di trek ini saya pun dipaksa untuk turun dari sepeda lagi. Wah…turun lagi untuk ke dua kalinya. Tadi juga sempat mau ‘jumping, sepeda mau terbalik jauh ke belakang. Karena faktor stang sepeda yang dibuat agak tinggi, dekat dengan dada. Cukup menegangkan juga sih trek ini, kuncinya kalo tak bisa dilewati jangan dipaksa untuk dilewati dengan bersepeda.

Trek menanjak dari cor beton
Langsung sambil saya tuntun lagi kemudian mencoba menaiki sepeda lagi. Ada tanjakan lagi dan tanjakan ini cukup tinggi. Medannya adalah jalan yang sudah di cor blok, dengan kondisi masih sepi tak banyak pengunjung yang lewati jalan ini. Saya pun tak kuat lagi untuk menaiki sepeda menaklukan trek ini. Terpaksa turun dari sepeda lagi. Dipaksa turun untuk kali ke tiga. Wah…rupanya pengalaman dan strategi dalam menaklukan trek tanjakan saya belum bisa diandalkan, masih kurang jam terbangnya.

Mas Widodo sudah berada di depan saya. Sambil menunggu saya dibelakang. Lalu saya mencoba menaiki lagi sepeda dan akhirnya sampai juga di tempat mas Widodo menunggu saya. Terlihat sang mentari sedang persiapan untuk kembali ke peraduannya. Dengan cahaya kuning keemasaan mulai memancar menembus sekumpulan awan.  Sesekali ada suara deru mesin kendaraan bermotor melewati jalan yang kita lewati. Mereka para pengunjung juga ingin menikmati sunset di Bukit Paralayang.

Ternyata masih ada trek satu terakhir tanjakan super naik. Mas Widodo berada di depan saya pun juga tak kuat, terpaksa dipaksa turun karena kondisi trek yang sangat menanjak. Akhirnya kami berdua di trek terakhir sebelum sampai di pintu gerbang Watu Gupit dan Paralayang turun bersama dari sepeda dan menuntutnya.

Ahaha ini judulnya mau naik sepeda atau nuntun sepeda? Wkwkw
Naik melewati anak tangga yang tersusun rapi, sepeda kita junjung dibawa ke puncak.  Seumur-umur belum pernah menjunjung sepeda ke puncak bukit, hanya sekedar untuk menikmati sunset. Melewatii anak tangga satu persatu dari tangga pertama naik ke tangga berikutnya terus seperti itu. Banyak juga yang tadi  memperhatikan tingkah gila kami berdua.

Naik ke puncak memanggul sepeda

Wakakak, kepuasan broe, kepuasan! Jawab mas Widodo penuh semangat, saya pun juga mengiyakan demikian. Kepuasan itu mahal harganya!

Sampaiah di puncak Bukit Paralayang, akhirnya sambil duduk santai  beristirahat sejenak menunggu mentari kembali ke peraduannya.  Menunggu sunset matahari Pantai Parangtritis di puncak Bukit Paralayang, rak yo manteb tah! Ketika sampai di puncak sudah banyak orang yang duduk santai menanti momen sunset. Ada anak kecil, anak muda-mudi, bahkan ada juga bapak-bapak usia sudah lanjut, sepuh lebih kurang usia 70 an tahun juga ikut ke puncak. Wah luar biasa ini, semangat bapak ini patut dicontoh, atau beliau sengaja dikerjai anaknya. Hihihi…

Lebih kurang ratusan pasang mata menatap ke arah barat, menanti momen indah tatkala benda ciptaan sang Khalik itu pulang ke sarangnya. Waw…ketika pas momen itu dating, hanya beberapa menit dan buru-buru para pengunjung mengabadikan dengan kamera smartphone atau camera DSLR, semua ingin buru-buru mengabadikannya. Tak ingin melewatkan momen ini.

Mas Widodo in style
Kala senja menyapaku
Sunset di Bukit Paralayang
Istimewa
Kita berdua duduk santai berada di puncak bukit Paralayang, dengan ditemani 2 sepeda di depan kami, melihat sunset matahari dengan pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Melihat keindahan alam kabupaten Gunungkidul memang tak ada duanya. Melihat pengunjung pantai Parangtritis sedang bermain-main ombak di tepi pantai, jalan Parangtritis yang selalu ramai dengan kendaraan bermotor, entah itu sepeda motor atau mobil. Saya jamin, rasa capek, rasa lelah tatkala tadi menaklukan tanjakan akan terbayarkan di sini.

Adzan maghrib berkumandang, segera kami berdua siapkan tenaga untuk pulang. Yah, pengalaman pertama menaklukan bukit Paralayang yang penuh tantangan, penuh dengan peluh keringat karena beberapa kali dipaksa berhenti turun dari sepeda. Masih perlu belajar lagi Gowes dan jam terbang menaklukan trek seperti ini. Oke insyaallah besok dicoba lagi dengan situasi dan kondisi yang berbeda.
 
Pintu Masuk Wisata Watu Gupit dan Bukit Paralayang


Jumat, 07 April 2017

Gowes ke Jembatan Gantung Selopamioro, Si Kuning yang Memikat Hati

Dwipracaya.com | Seperti biasa sepeda hitam sudah siap di halaman depan. Berwarna hitam mengkilat dengan kombinasi warna merah, hitam, dan sedikit lis warna putih, sepeda itu baru saja berpindah tangan dari rekan SMP dahulu. Tentu saja hal ini menandakan bahwa pemerintahan berpin dah tangan dari mereka terus berpindah ke tempat saya. Hahaha...
Jembatan warna kuning nan Eksotis

Pagi itu udara segar nyaman dan masih sejuk, masih virgin (perawan) belum terkontaminasi oleh asap kendaraan bermotor. Langsung saja kupacu sepeda hitamku, tujuan akhir adalah Jembatan Gantung Selopamioro Bantul. Tempat dengan jarak tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Lebih kurang bisa ditempuh dengan bersepeda 30-45 menit dengan kecepatan normal. Sengaja memilih ke tempat tersebut karena sudah lama sekali tidak melewati jembatan berwarna kuning tersebut, terakhir pas ke sana ketika mengendarai motor, hanya sekedar lewat saja.

Waktu itu mengantarkan temanku yang bernama Fadwa. Lebih kurang 1 tahun yang lalu, cukup lama waku terakhir ke sini. Kemudian juga siangnya masih ada acara lagi di Jogjakarta. Jadi untuk kegiatan rutin pas hari libur cari trek yang mudah dan jarak yang dekat saja, tepat Jembatan Gantung Selopamioro adalah pilihan yang tepat.

Jalan masih lengang jauh dari keramaian 

Kalau dari Jalan Parangtritis bisa ditempuh lewat  pertigaan lampu merah Tembi Sewon lurus saja, melewati lampu merah Manding (ada gapura besar di sebelah kanan lampu merah) masih lurus saja sampai menemukan perempatan lampu merah lagi (lampu merah Bakulan). Ciri khasnya adalah ada bangunan pos polisinya. Lampu merah itu ambil ke kiri, lurus saja sampai menemukan pasar Barongan, perempatan lampu merah ( perempatan sedikit melenceng) lurus saja ambil arah ke Makam Raja-Raja Imogiri. Kemudian ada SMK Muhammadiyah Garjoyo ambil kanan, arah ke Silok. Setelah melewati Lapangan sepakbola Kebonagung langsung lurus saja, nanti akan menjumpai SMP Negeri 2 Imogiri. Sampai situ perlahan belok kiri. Sudah mulai masuk untuk menuju ke Jembatan Gantung Selopamioro Bantul.

Jalan masih sunyi dan lengang, tak banyak kendaraan yang lalu lalang memulai segala aktifitasnya. Udara segar benar, aroma yang khas aroma tanah khas pedesaan. Sesekali ada juga para Gowesser yang berpapasan pulang. Saya baru saja mau ke tempat itu, eh mereka sudah perjalanan pulang. Hanya sekedar say hello, dan membunyikan bel sepeda sekedar menyapa, dengan disertai senyum kecil mengembang diantara para Gowesser ini. Ada ibu-ibu, bapak-bapak seusia bapak saya (50 tahun). Turut juga ada anaknya ikut bersepeda ria, semua terlihat menikmati pemandangan yang ada dan sarat akan wisata 'Ndeso nya.

Melewati Dusun Kedung Miri, masih lurus saja. Akan ada deretan tanah persawahan mirip terasering di Bali yang bergaris-garis dengan eloknya. Terlihat ada ibu-ibu bersemangat sudah mulai beraktifitas di lahan sawah tersebut. Hijau dan serba teratur itulah kesan saya ketika melewati areal persawahan ini.
Kemudian setelah beberapa menit sampailah di Jembatan Gantung Selopamioro Bantul. Bangunan jembatan itu masih dominan warna kuning yang memikat, dengan aksen warna coklat, yah warna besi yang sudah berkarat. Menambah kesan natural dan alami. Di warung sederhana tepatnya di sebelah barat Jembatan Gantung Selopamioro Bantul sudah ada Goweser yang sekedar beristirahat dan menyantap aneka camilan yang ada. Ditemani segelas teh atau kopi para Goweser beristirahat dan bercerita ria tertawa bersama.

Perfect!



Jalan menuju Jembatan Gantung Selopamioro Bantul
Mengingat acara sudah ada yang menanti, langsung saja kulewati Jembatan Kuning tersebut, dari atas terlihat Gowesser juga di bawah jembatan sedang asyik berfoto ria dengan pose menggoda ditambah sepeda kesayangan juga ikut majang di latar background nya. Perfect!

Langsung saja terus ku kayuh sepedanya, kalau berangkat lewat jalan utara otomatis pulang melewati jalur selatan. Masih sepi dan lengang, tampak masyarakat masih malu-malu untuk beraktifitas. Melewati Jembatan Lama Siluk. Ketika sudah berada di Jembatan Siluk, coba perhatikan sebelah utaranya. Ada Jembatan Tua yang sudah berkaratan, dengan jalannya banyak berlubang. Ada juga tulisan berwarna warni menambah suasana ceria "KAMPUNG EDUKASI SILUK". Yap... itulah Jembatan Siluk yang lama. Sudah tidak dipakai lagi, karena sudah digantikan dengan yang baru. 

Kampung Edukasi Siluk
Bagian Jembatan Siluk Lama

Karena kesannya jembatan itu bekas dan bangunan sangat tua inilah tak heran banyak anak muda yang sering menjadikan objek jembatan ini sebagai background nya. Kesannya adalah unik nyentrik dan natural. Dengan tak ada biaya retribusi jika ingin mampir sekedar ambil foto disini.

Catatan:
Harap berhati-hati jika melewati area Jembatan Siluk Lama ini karena sudah banyak yang berlubang, dan bagian besi yang mulai rapuh. Di sarankan jangan berlama-lama main di bawah besi tua itu. Kalau sudah selesai ambil foto segera pergi saja, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.


Temukan Jembatan Gantung Selopamioro di aplikasi Googlemaps kalian di bawah ini.



Rabu, 05 April 2017

Stasiun Maguwo Lama Menyimpan Banyak Sejarah yang Belum Terkuak

stasiun maguwo lama
Stasiun Maguwo Lama via wikipedia
stasiun maguwo lama
Foto peta lawas tahun 1944, sumber : maps.library.leiden.edu

Dwipracaya.com |Berawal dari sebuah pencarian informasi sekedar iseng lewat aplikasi Instagram. Ada sebuah informasi menarik tentang adanya kegiatan eksplorasi tentang bangunan sejarah yang memiliki sejarah hebat. Ketika waktu itu saya tertarik dengan informasi gambar tersebut  "Kelas Mewarnai Indonesia Seri Menulis & Jelajah Heritage". Saya lihat acaranya Minggu, 2 April 2017 jam 08.00 -14.00 wib bertempat di Stasiun Maguwo Lama. Poin pertama yang saya perhatikan adalah waktu pelaksanaannya yakni pada hari Minggu, yap kebetulan pas tidak ada pekerjaan untuk perusahaan saya bekerja, karena sering untuk hari libur biasa juga dipakai untuk kegiatan perusahaan. 

Yes, saya bisa ikut, saya bersemangat!

Singkat cerita saya langsung menghubungi nomor kontak person panitia yang tertera dalam postingan gambar tersebut. Melewati beberapa proses, dan menghasilkan kesimpulan bahwa saya bisa untuk mengikuti acara pada hari tersebut.

Yes, rejeki anak sholeh emang nyata. Maka nikmat mana yang kamu dustakan!

Perjalanan dari rumah sudah saya persiapkan sebelumnya, seperti kapan harus berangkat dan sampai berada di lokasi. Saya targetkan untuk datang "in time bukan "on time. Kalau "in time itu datang sebelum acara dimulai, nah kalau "on time itu datang pas waktu di mulai.

Bisa membedakan yak?

Ternyata dari target yang saya tentukan sampai di lokasi jam 07.45 wib menjadi gagal total. Berawal dari informasi aplikasi Googlemaps tentang kata kunci 'Stasiun Maguwo Lama. Ternyata informasi antara aplikasi Googlemaps berbeda dengan informasi lokasi di postingan gambar.

Waduh! 

Lalu saya mencoba mutar-mutar mencari jalan arah Jogja-Solo, mencoba mengingat informasi yang sudah disampaikan oleh panitia. Sebelumnya ke sasar juga melewati lampu merah depan bandara Adisucipto ke timur. Maklumlah tak ada papan petunjuk untuk memberi arah ke TKP, bandara Adisucipto masih ke barat, melewati Lapangan PT. Angkasa Pura, ada belokan pertama ada gapura masuk kampung, belok kiri saja sampai 'menthok lalu ambil kanan, lurus sekitar 300 meter. Akhirnya ketemu juga setelah melewati proses yang cukup menghabiskan waktu. Sampai dilokasi sudah banyak peserta yang datang, waduh merasa tak enak sendiri ini. 

Ya udahlah, daripada tak sama sekali datang, saya beranikan langsung masuk ke tempat registrasi ke panitia. Yap, ketemu sama mbak Niken yang kemarin membantu mendaftarkan saya, di bagian registrasi. Setelah melakukan registrasi langsung gabung bareng teman-teman di lokasi kejadian.

Sekilas pandangan pertama saya tertarik dengan peserta yang berkostum jaman dahulu, pakaian lurik khas Jawa, ada juga peserta yang memakai kostum ala 'Noni-Noni Belanda lengkap dengan rok lebar bermotif bunga dikombinasikan dengan topi lebarnya, ada juga kostum ala "meneer Belanda. Celana warna putih, kemeja warna putih, ditambah dengan kaca mata bulat ditambah topi warna putih juga. Keren habis deh pas waktu pertama datang dan liat peserta pakai kostum jadul itu.

stasiun maguwo lama
Para peserta Kelas Mewarnai Indonesia foto di depan Stasiun Maguwo Lama

Kesan pertama kali datang ke sini, waw LUAR BIASA ini komunitas!


Acara ini bertemakan "Kelas Mewarnai Indonesia, Seri Menulis dan Jelajah Heritage" stop sampai sini jangan pernah berpikiran bahwa nanti akan ada penampakan cat warna, kuas bulat panjang, aneka cat air dan kanvas. Ini bukan melukis pada umumnya. Mewarnai Indonesia maksudnya adalah, Indonesia adalah negara kesatuan dari beraneka ragam warna, budaya bahasa dan kesenian masing-masing. Indonesia tidak bisa berdiri hanya dari satu macam warna saja. Ras, Suku, Agama dan Budaya, yang tidak sama justru itu keunikan bangsa Indonesia. Dengan kegiatan Mewarnai Indonesia kita ikut mempercantik Indonesia dengan warna yang berbeda. Menyebarkan virus kreatif, posItif, menyebarkan pesan damai, menghindari kekerasan pada kriminalisasi seperti maraknya kasus "klithih yang sempat booming di media. Stop! Kita berbeda Sob, kita ingin mempercantik  Indonesia, melalui kanal media sosial, ingin mewarnai Indonesia bukan mencorat-coret Indonesia.

stasiun maguwo lama
Saudari Elzha sedang memberikan arahan kepada peserta
stasiun maguwo lama
Hadir Ketua Stasiun Maguwo Bapak Burhani

Acara "Kelas Mewarnai Indonesia, Seni Menulis dan Jelajah Heritage" ini diselenggarakan oleh Pojok Duta Damai, Komunitas Roemah Toea, Dinas Kominfo DIY, Dinas Kebudayaan Sleman, Komunitas Malam Museum, serta Komunitas Masyarakat Digital Jogja (MASDJO) pada tanggal 2 April 2017. Bertempat di Stasiun Maguwo Lama yang terletak di Desa Maguwoharjo, kecamatan Depok, kabupaten Sleman, propinsi D.I Yogyakarta. Bangunan kecil yang kita tempati adalah tempat pembelian peron karcis kala itu. Didirikan dan dioperasionalkan oleh Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM) perusahaan yang merintis pembangunan jalur kereta api di Pulau Jawa.

Stasiun Maguwo Lama sudah ada sejak tahun 1873 bersamaan beroperasinya jalur kereta api lintas Semarang-Surakarta-Yogyakarta. Awalnya stasiun ini ukurannya hanya sebesar pos kamling, baru pada tahun 1909 stasiun direnovasi sehingga mirip pada foto di bawah ini.

stasiun maguwo lama
Stasiun Maguwo Lama tampak dari belakang
Terbuat dari kayu, tentunya kayu jati yang sudah terkenal akan kualitas dan tahan lamanya. Perlu diketahui, bahwa Stasiun Maguwo Lama merupakan satu-satunya stasiun berkonstruksi kayu yang masih berdiri utuh di propinsi D.I.Yogyakarta.

Kemudian pada tahun 2007 mulai dibangun Stasiun Maguwo Baru yang letaknya 300 meter di timur Stasiun Maguwo Lama, persis di seberang area parkir kendaraan pengunjung Bandara Adisucipto. Kemudian setelah itu secara resmi setelah adanya Stasiun Maguwo Baru ini  dan adanya jalur rel ganda (double track) pada tahun 2008 dinonaktifkan. Sejarah pembangunan Stasiun Maguwo Lama tentu tak bisa lepas dari ramainya industri gula di Vorstenlanden (wilayah yang melingkupi Yogyakarta dan Surakarta) pada abad ke 19. Pada waktu itu ada Pabrik Gula lebih kurang 19 (sembilan belas) di wilayah tersebut. Tentu saja dengan banyaknya pabrik gula pasti membutuhkan transportasi agar bisa membawa gula ke pelabuhan Semarang untuk selanjutnya di ekspor ke luar negeri.

NISM melihat hal ini sebagai peluang bisnis yang menggiurkan untuk membuka jalur kereta api dari Semarang ke Vorstenlanden, setelah melewati proses yang rumit jalur ini pertama kali dibuka dari Semarang ke Tanggung, Grobogan pada tahun 1869.

Acara dipandu oleh saudara Elzha dari Pojok Duta Damai, untuk Komunitas Blogger Jogja sudah tak asing mendengar nama Elzha, dan untuk perwakilan dari Komunitas Roemah Toea di wakili oleh saudara Hari. Saudari Elzha memberikan penjelasan tentang susunan acara, rundown acara, dan tujuan diadakan kegiatan ini. Sedangkan saudara Hari memberikan penjelasan tentang adanya Komunitas Roemah Toea, peran dari Stasiun Maguwo Lama. Tak ketinggalan Bapak Burhani memberikan sambutan mewakili Kepala Stasiun Maguwo Baru. Bertempat di bangunan tua Stasiun Maguwo Lama. Kemudian dibentuk 2 (dua) kelas yakni kelas Menulis dan kelas Video. Untuk yang menulis dipandu oleh saudara Aga dan Lengkong. sementara untuk kelas Video dipandu oleh saudara Hari. Saya memilih dan mengikuti kelas Menulis otomatis lah. Setelah penjelasan pengantar disampaikan para peserta meninggalkan bangunan tua ini dan muai mengeksplorasi hal-hal segala sesuatu tentang Stasiun Maguwo Lama.

stasiun maguwo lama
Santai tapi Serius
stasiun maguwo lama
Belajar di ruang terbuka dekat dekat rel kereta api

stasiun maguwo lama
Saudara Hari dari Komunitas Roemah Toea sedang memberikan penjelasan


Di peron Stasiun Maguwo Lama ini, sesi kelas heritage di mulai. Sesi kelas heritage dibuka dengan kisah Agresi Militer II Belanda yang terjadi pada tanggal 19 Desember 1948 di bandara Maguwo, tepat di seberang Stasiun Maguwo Lama. Saudara Aga dan Lengkong (sampai saat ini masih ragu, itu nama aslinya bukan?) menceritakan bagaimana kronologi Agresi Militer II Belanda terjadi, mulai dari pernyataan Dr. Beel bahwa Belanda tidak lagi terikat perjanjian Renville (artinya secara sepihak Belanda melanggar perjanjian Renville, bagaimana Jenderal Spoor memimpin serangan yang taktis, terjadinya serangan ke bandara Maguwo, pesawat sipil carteran yang 'super apes mendarat 1 jam setelah bandara Maguwo telah dikuasai oleh Belanda, sampai dikuasainya Ibu Kota Indonesia, yakni Yogyakarta.

stasiun maguwo lama
Para peserta antusias mendengarkan informasi
stasiun maguwo lama
Saudara Aga yang totalitas memberikan informasi tentang Stasiun Maguwo Lama
stasiun maguwo lama
Berawal dari penjelasan ini peserta mulai menulis, merekam dan memfoto informasi
stasiun maguwo lama
Salah satu foto sejarah untuk memvisualisasikan Stasiun Maguwo Lama

Keduanya merupakan anggota Komunitas Roemah Toea yang sangat fasih dan mahir tentang sejarah Stasiun Maguwo Lama, pasangan maut dah untuk mereka berdua. Sesekali kami juga mendengarkan suara mesin jet pesawat terbang yang lepas landas, memecah konsentrasi penjelasan dari mereka berdua. Wajar saja mengingat di depan kami terpaut beberapa meter adalah landasan pacu pesawat bandara Adisucipto. Sesekali juga mendengarkan suara kereta api yang berjalan di depan bangunan peron Stasiun Maguwo Lama.

Kemudian saudara Aga dan Lengkong mengajak kami untuk melihat-lihat sisa peninggalan Stasiun Maguwo Lama di area sekitar. Di pojok timur utara bangunan utama yang kita pakai sat ini ada sumur dengan masih ada tiang dari rel kereta api sebagai tiangnya. Menurut informasi dari saudara Aga itu sumurnya peninggalan dari masa lalu. 

Ada juga tiang telegraf yang masih original, tentunya sudah berkarat berwarna cokelat masih berdiri menjulang tinggi seakan ingin berkata bahwa mereka menyaksikan para tentara Belanda waktu itu menyerang, membunuh para penduduk sipil. Ada juga pohon bunga Kamboja di sisi timur tiang telegraf, konon menurut sesepuh yang tinggal di sekitar Stasiun Maguwo Lama, di tempat itulah jenazah para penduduk sipil di kuburkan pada waktu Agresi Militer II Belanda.


stasiun maguwo lama
Tiang telegraf sisa sisa peninggalan Stasiun Maguwo Lama

stasiun maguwo lama
Sumurnya masih ada dengan tiang rel kereta api

stasiun maguwo lama
Pohon Kamboja konon tempat pejuang dikebumikan via nasirullahsitam.com

Kemudian di sebelah bangunan utama Stasiun Maguwo Lama ada pancang tiang bendera untuk menempatkan bendera negara waktu itu. Masih jelas bekas dari sisa-sisa peninggalan sejarah itu, hanya saja sekarang beralih fungsi dan cenderung tak terawat. Saudara Aga juga menunjukkan bekas pondasi gudang penyimpanan gula di bagian barat sendiri. Waktu itu Stasiun Maguwo Lama difungsikan sebagai stasiun angkut gula dari PG Wonocatur. Gula tersebut disimpan dahulu di gudang sebelum akhirnya diangkut menggunakan kereta api. Sekarang PG Wonocatur sudah berubah menjadi Museum Dirgantara Mandala.

stasiun maguwo lama
Tiang pancang bendera Stasiun Maguwo Lama

Selanjutnya mengunjungi bekas rumah tua Rumah Kepala Dinas Kepala Stasiun Maguwo Lama. Almarhum Pak Narso (Kepala Stasiun Maguwo Lama dengan masa Jabatan 1955- 1970) tercatat sebagai penghuni terakhir rumah bergaya Indisch. Diyakini bangunan ini sudah berdiri sejak Stasiun Maguwo Lama Berdiri dan pernah direnovasi pada tahun 1938 sesuai dengan cetakan angka di kayu atap yang pernah dilihat saudara Aga.

Sayang sekali kami tak bisa masuk ke dalam bekas rumah kepala dinas ini, karena kebetulan pemegang kunci gerbang rumah ini sedang pergi, hanya dari luar kami bisa memandangi bangunan bekas berantakan dan porak-poranda ini. Sungguh jauh dari kata mewah, namun saya percaya bahwa pada waktu itu bangunan di depan ini adalah bangunan megah yang memanjakan penghuni di dalamnya. Bangunan itu terdiri dari 2 kamar utama, halaman belakang dan 2 kamar terpisah dibelakang sebagai dapur dan kamar pembantu. Rupanya gempa Jogja tahun 2006 silam juga memporakpandakan Gudang Pabrik Gula dan Rumah Kepala Dinas ini.

stasiun maguwo lama
Rumah Kepala Dinas tinggal puing-puingnya saja
stasiun maguwo lama
Bangunan tampak dari depan
Kemudian kami berjalan ke arah barat, lebih tepatnya di baratnya bangunan gedung Pupuk Sriwijaya, ada selokan  dan kami duduk dapat penjelasan dari salah satu ahli sejarah Stasiun Maguwo Lama. Waktu itu perusahaan kereta api ada banyak, namun untuk wilayah Yogyakarta ada 2 (dua) perusahan besar yakni Staatspoorwegen (SS) adalah perusahaan kereta api milik negara, dan satunya Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij (NIS) adalah perusahaan kereta api milik swasta.

Apa yang membedakan Rel milik NIS dengan SS

Perbedaannya salah satunya adalah lebar rel (gauge). Rel NIS memakai ukuran gauge 1.435 mm sementara rel SS memakai ukuran 1.067mm. Hal yang patut diketahui adalah kereta milik NIS tidak bisa melintas di Rel milik SS, namun kereta milik SS bisa melintas di atas rel miik NIS dengan modifikasi tambahan batang besi yang melintang vertikal di tengah rel NIS.


stasiun maguwo lama
Foto single track sebelum  tahun 1929 via spoorwegstation op java - de jong
stasiun maguwo lama
Foto double track setelah  tahun 1929 via spoorwegstation op java - de jong

Stasiun Maguwo Lama dahulunya adalah stasiunnya NIS dan termasuk stasiun kecil, dan hanya kereta-kereta ekonomi yang berhenti di stasiun ini. Tetapi stasiun ini juga difungsikan sebagai stasiun pengawas kereta milik SS yakni Eendaagsche Express (1929) dan Java Nacht Express (1936). Eendaagsche Express beroperasi pada siang hari, sementara Java Nacht Express beroperasi pada malam hari.

Saudara Aga juga memberikan informasi jika pada waktu itu ketika kereta ekspres ini juga dilengkapi dengan fasilitas AC (Air Conditioner) hanya saja berbeda dengan kondisi sekarang. Waktu itu hanya ada kipas angin biasa dengan dikombinasikan oleh balok-balok es. Tak heran dahulu kala ketika kereta api berhenti selain untuk menunggu gantian jalur kereta juga untuk mengisi stok es balok, dan tak heran biasa dekat stasiun pasti ada pabrik pembuat es balok.

Kreatif juga yak orang waktu itu?

Selanjutnya peserta mulai berjalan mengenal bekas-sisa sisa bangunan di area Stasiun Maguwo Lama, sebelum 1943 Maguwo Lama adalah sebuah stasiun dengan layout pulau, mirip dengan Stasiun Tugu. Dibantu penjelasan oleh saudara Aga dan Lengkong bercerita bagaimana sibuknya stasiun sekecil Maguwo harus mengatur lalu lintas kereta api baik jalur milik NIS maupun jalur milik Staatspoorwegen, belum lagi jalur kereta pengangkut gula dari Pabrik Gula Wonocatur.

stasiun maguwo lama
Flyover jembatan SS di dekat bandara Maguwo, sumber KITLV

stasiun maguwo lama
Bekas tiang jembatan untuk jalur kereta api yang masih, sumber: dok.pribadi Aga

Jalur milik Staatspoorwegen sendiri tamat riwayatnya pada tahun 1943 karena dicabut oleh Militer Jepang, dipergunakan untuk membangun jalur baru, salah satunya jalur Muaro- Pekanbaru. Dengan berbekal buku "De Pekanbaroe Spoorweg dan "Eindstation Pakanbaroe 1944-1945, saudara Aga dan Lengkong mencoba memberi gambaran kepada teman-teman tentang apa yang terjadi dengan rel yang dicabut oleh pemerintah Jepang, termasuk rel Staatspoorwegen yang melintasi Maguwo Lama, dan bagaimana kondisi pembangunan Jalur Muaro- Pekanbaru yang dibangun oleh keringat para rakyat Indonesia dan tawanan perang Belanda kerja paksa yang lebih familiar dikenal dengan 'Romusha.

Dihalaman belakang Stasiun Maguwo Lama ini, kami berbagi cerita mengenai bagaimana Maguwo Lama bisa terhubung dengan Pabrik Gula  Wonocatur, dan bagaimana besarnya industri gula di wilayah Yogyakarta pada masa itu.

Dimana sebelum tahun 1935 Yogyakarta memiliki 19 (sembilan belas) Pabrik Gula. Bisa dibayangkan pada era sebelum 1935 jika 19 pabrik gula tersebut beroperasi secara bersamaan, tidak terbayangkan betapa sibuknya kota Yogyakarta sebagai salah satu pusat Industri Gula terbesar di Indonesia. Pabrik gula itu antara lain PG Medari, PG Kedaton Pleret, PG Padokan (Madukismo), PG Tanjung Tirto, PG Sewugalur, PG Demak Ijo, PG Sendang Pitu, PG Barongan, PG Pundong, PG Bantul, PG Ganjuran (Gondang Lipuro), PG Cebongan, PG Beran (Pemkab Sleman), PG Klaci (SMA 1 Godean), PG Rewulu, PG Sedayu (Belakang Kantor Pos Sedayu), PG Randugunting, PG Wonocatur, dan PG Gesikan.

Sayang masa keemasaan itu sudah berakhir diawali dengan terjadinya krisis moneter pada masa itu yang menyebabkan harga gula turun drastis, jatuh sekali. Harga di pasar ekspor tak mampu memenuhi biaya produksi pabrik, sehingga peristiwa ini lambat laun memaksa pabrik gula yang tersebar di Yogyakarta semula berjumlah 19 (sembilan belas) mulai bangkrut. hanya menyisakan 1 pabrik gula saja yakni PG Padokan yang sekarang berganti nama menjadi PG Madukismo.

Kemudian di sesi acara saudara Aga menjelaskan juga tentang lantai/ tegel/ ubin asli dari Stasiun Maguwo Lama yang masih ada. Hanya ditimbun saja oleh keramik baru. Meskipun seluruh lantai Stasiun Maguwo Lama dilapisi keramik warna putih namun kami masih bisa melihat lantai asli dari bangunan tersebut. Hanya ditutupi oleh papan kayu persegi panjang, papan kayu itu digunakan untuk menutupi lubang besar yang dahulu merupakan tempat "mesin persinyalan.

Lantai/ tegel/ ubin berbentuk kontak persegi panjang, bermotif dua ceruk jalur air yang bersilangan. Motif seperti itu agar tidak licin ketika terkena air, dan tegel ini juga di datangkan lansung dari luar negeri. Jadi untuk urusan bangun membangun kita boleh berguru dengan arsitek Belanda. Membangun bangunan bukan hanya untuk 5-10 tahun, tapi membangun untuk selamanya, begitulah perumpamaan untuk para arsitek negara Belanda. Tak heran sampai sekarang masih dijumpai bangunan Belanda yang saat ini masih bertahan, masih digunakan pakai dalam kondisi normal.

stasiun maguwo lama
Lantai asli Stasiun Maguwo Lama 

Stasiun Maguwo Lama juga mempunyai kenangan tersendiri dengan Founding Father Republik Indonesia, Presiden ir. Soekarno pada tahun 1955 bertolak di stasiun ini menggunakan kereta api luar biasa untuk perjalanan ke Purwokerto. Ibarat suatu romansa cinta, bangunan tua ini juga mempunyai kenangan manis dengan tokoh idola saya ini, meskipun cinta itu hanya sekedar 'Mampir. Namun sayang, foto dokumentasi ikut hilang/ rusak terkena Gempa Jogja tahun 2006.

Diharapkan dengan adanya kegiatan "Kelas Mewarnai Indonesia, Seri Menulis dan Jelajah Heritage" maka peserta mulai mengenal tentang peran penting Stasiun Maguwo Lama. Mengerti sejarah dan peristiwa apa saja yang berhubungan dengan Agresi Militer II Belanda dengan latar Stasiun Maguwo Lama. Bangunan ini juga menjadi latar film pembuatan Janur Kuning pada tahun 1979. Menulis dan membuat video tentang Stasiun Maguwo Lama dan menyebarkan cerita ini ke masyarkat luas. Bisa melalui media sosial, media cetak atau media lisan. Intinya jangan sampai sisa peninggalan sejarah dan cerita heroik tentang Stasiun Maguwo Lama hilang di telan masa. 

Semoga ke depan pemerintah lebih memperhatikan akan potensi wisata Stasiun Maguwo Lama ini, dan lebih sering mengadakan kegiatan pengenalan sejarah tentang perkeretaapian menggunakan bangunan tua ini.

Terimakasih untuk semua pihak yang sudah memberikan wawasan sejarah dari bangunan bersejarah ini, semoga Stasiun Maguwo Lama selalu ada sampai kapanpun, menebarkan cerita sejarah kepada warga masyarakat Jogja dan Indonesia. Selalmu memberikan edukasi kepada generasi penerus akan perjuangan orang terdahulu, bangunan menyimpan sejarah besar, tugas anak cucu kita adalah menjaga warisan sejarah ini dengan tulisan dan perbuatan.

stasiun maguwo lama
Peserta Tim Menulis Kelas Mewarnai Indonesia  via mblusuk.com


“Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar maka,
 menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”
[H.O.S Tjokroaminoto]





http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html