Minggu, 30 Juli 2017

Karbakar: Rasa Ala Cafe, Harga Rasa Angkringan!

Dwipracaya.com | Siang itu, di tengah hiruk pikuk kota pelajar, kota budaya siapa lagi kalau bukan kota Jogjakarta. Kaki ini melangkah ke sebuah tempat, lebih tepatnya sebuah kuliner. Kuliner yang unik dan patut untuk dicoba, jika memang Anda mengaku sebagai kuliner.

resto karbakar jogja
Karbakar via @karbakar_id
resto karbakar jogja
Nasi goreng plus telor ceplok

Tempat kuliner ini adalah Karbakar, yang beralamatkan di Jl. HOS. Cokroaminoto No. 87 Yogyakarta. Kalau dari perempatan Wirobrajan Jogjakarta masih ke utara lebih kurang 1 km. SMA Negeri Teladan Yogyakarta masih ke utara, kalau dari Klithikan masih ke utara. Sebelah barat jalan ada baliho besar bertuliskan Karbakar.

Pada kesempatan siang itu, saya mengobrol santai dengan Manager Karbakar, sebut saja namanya Pak Wakhid. Orangnya supel, humble dan asyik jika di ajak ngobrol. Setelah memarkir sepeda motor di depan, segera saya memesan tempat duduk yang dirasa nyaman. Tempat duduk favorit saya biasa tengah, sambil menghadap di depan meja kerjanya. Sambil mengamati para karyawan sedang bekerja, sesekali melihat ke jalan raya melihat para pemakai jalan hilir mudik melintasi jalan tersebut. Sangat ramai!

Pak Wakhid bercerita bahwa Karbakar itu mulai beroperasi sekitar bulan Desember tahun 2016. Sekilas nama Karbakar itu sangat unik dan terkesan ‘nyeleneh, karena biasa kalau makanan dalam nuansa bakar-bakar misal namanya Pondok Bebakaran, Bebakaran, lha kok ini namanya Karbakar. Kok bisa unik ya?

Sengaja memilih nama Karbakar agar mudah diingat oleh para konsumen, lebih unik dan lebih nyentrik. Sehingga ketika calon pembeli ingin mencari tempat Karbakar tak menemukan kesulitan, secara lidah orang Jogja juga fasih dalam mengucapkannya bukan? Gak percaya? 
Coba aja bilang Karbakar sekarang juga, hahaha. Sekilas juga mirip logat Madura juga, Te sate….., Kar Bakar…. Mirip juga kan. Sambil bercerita pak Wakhid, dengan penuh semangat.

Karbakar buka dari jam 10.00 - 22.00 wib, buka setiap hari, karena menggunakan sistem shift jadi bisa buka setiap hari.

Apa segmen dari Karbakar?

Segmen dari Karbakar adalah mahasiswa, anak sekolah, dan masyarakat pada umumnya. Sengaja membidik segmen anak sekolah dan mahasiswa mengingat lokasi Karbakar berada di area sekolahan yakni sekolah SMA Negeri 1 Teladan Yogyakarta, SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta, SMP Tumbuh, dan SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Jadi otomatis sangat cocok jika target yang dibidik adalah kaum anak muda yang pengin merasakan sensasi berbeda dalam menikmati olahan khas bebakaran dengan tempat yang unik dan elegant.

Ada apa saja menu dari di Karbakar?

Secara umum menunya sangat bervariasi ada Nila Bakar, Bebek Bakar, Burung Dara Bakar, Sosis Bakar, Roti Bakar, dan aneka menu lainnya. Untuk sambalnya juga lengkap, ada sambal Karbakar, Sambal Mentah, Sambal Bawang, Sambal Terasi dan Sambal Tomat. Untuk 'hot plate juga ada, Toping tersedia dengan varian Keju dan Sosis.

resto karbakar jogja
Ayam bakar via @karbakar_id

Nah untuk urusan minuman ada Milkshake Vanilla, Milkshake Coklat, Milkshake Strawberry, Capucino Cincau dan lainnya. Untuk menu makanan dan minuman sangat bervariatif, ada yang paling murah di kisaran Rp15.000 sampai dengan Rp16.000 sudah bisa menyantap makanan plus air minum. So, jangan khawatir jika budget kalian pas, ingin makan olahan seba bebakaran tak ada salahnya mampir ke sini.

resto karbakar jogja
Blue Ocean via @karbakar_id

Apa yang menjadi hal unik di Karbakar?

Yang menjadikan Karbakar itu berbeda dan unik adalah, menunya adalah memadukan konsep kolaborasi menu western food dengan traditional food. Jadi ada kombinasi menu dari makanan tradisional seperti nasi goreng, tapi juga dikombinasikan dengan makanan western food seperti ada menu ‘Skewer menu yang berisikan daging sapi dan ayam yang ditusuk mirip penyajian sate, dan dikombinasikan dengan sayuran jadi ala-ala makanan cafe gitu. #cool

Fasilitas yang ada di Karbakar?

Tersedia 2 (dua) lantai yang siap menerima pembeli, tempatnya bersih dan parkir jelas gratis. Nah ini menarik karena salah satu trik untuk menggaet anak mahasiswa dan sekolah tadi. Ada layar monitor LCD yang terpasang atas, di tembok, untuk menghibur pembeli. Sambil menunggu pesanan bisa sambil melihat televisi, juga akan mendengar playlist musik yang memanjakan telinga para pendengarnya. Tersedia tempat duduk dan ada juga yang lesehan, pembeli tinggal memilih, mana yang lebih suka. Simple kan?
resto karbakar jogja
Bersih dan nyaman
resto karbakar jogja
Suasana kekinian banget
resto karbakar jogja
Karbakar Jogja
resto karbakar jogja
Karyawan yang ramah

Ada juga menu menu kopi jika dibutuhkan, rupanya Pak Wakhid ini mempunyai keahlian sebagai barista. Bisa menyajikan kopi dengan citarasa yag berbeda. Karena beliau memilik ilmu dan keahlian di bidang itu, wah wah…keren juga neh, udah jadi manager plus juga bisa menyajikan kopi dengan skill barista. #topdah. Untuk varian kopi ada kopi Tubruk, French Press, Espresso, Americano, Latte, dan Mochacino. Eittt, tenang harga mulai Rp7000 loh?. Yang suka kopi segera merapat!

Apa harapan dari Karbakar?

Harapannya adalah menjadi pionner, atau pelopor dari makanan yang menyajikan konsep perpaduan , menu western food dan tradisional food. Semoga masyarakat bisa menerima pesan ini sehingga bisa mencoba menu dari Karbakar dengan harga kompetitif dan bisa menilai sendiri bagaimana rasa yang telah ditawarkan Karbakar.

resto karbakar jogja
Menu Karbakar Jogja

Untuk media sosial Karbakar ada di Instagram @karbakar_id, Facebook karbakar.id, so sebeum membeli coba deh browsing dulu dan cek menu yang ada, agar tak bingung dalam memesan, mengingat menu Karbakar super lengkap loh. Melayani juga delivery order baik secara langsung atau melalui driver Gojek, jadi ketika lapar melanda pengen makan menu Karbakar tinggal pesan aja via driver Gojek. Hubungi 0812-1414-8064 untuk Pemesanan Order.

Pada kesempatan itu saya mencoba menu dari nasi goreng bakar. Seperti biasanya menu andalan saya. Dimana itu, saya selalu mencoba menu nasi goreng. Nasi gorengnya ukuran porsi sedang, tak terlalu banyak juga tak terlalu sedikit. Daging yang ada dalam nasi goreng banyak, terlihat jelas ketika ada di dalam nasi juga di luar nasi. Rasa nasi goreng masih terasa asin, dan nasi gorengnya empuk dan matang dengan sempurna. Struktur bumbu, sayuran dan telur juga pas banget. Telur ceploknya gurih dan matang dengan sempurna. Rasanya cukup enak, dan gak kalah dengan menu di cafe-cafe Jogjakarta. Karena saya memesan rasa pedas, jelas terlihat beberapa potongan cabe warna orange, sedang bercampur dengan paduan warna nasi coklat karena kena kecap. Ehm,,,,maknusssssss brohh!


resto karbakar jogja
Nasi goreng telur ceplok
Nah, untuk minumannya juga berbeda, Karbakar menggunakan gula cair. Jadi singkat cerita jika ingin meminum minuman di sini, pertama kalai adalah jangan lupa untuk mengaduknya. Karena menggunakan gula cair, otomatis selama gula belum diaduk jelas tak merasakan manis. Inilah juga yang membuat unik Karbakar, sengaja menggunakan gula cair agar rasa minuman lebih terasa manis.

Dipenghujung ngobrol santai itu, terlihat para pekerja sedang asyik mempersiapkan pelayanan untuk pembeli, ada yang sibuk menyiapkan kardus, ada yang sibuk menghitung administrasi di meja kasir, ada juga yang sibuk menerima telepon dari pembeli. Pelayanan yang ramah adalah salah satu trik dari Karbakar untuk memberikan pelayanan bagus kepada konsumen.

Semoga Karbakar sukses dan menjadi Pioner dalam dunia kuliner di Jogja, sukses terus untuk Karbakar dan bravo kuliner Jogja!

karbakar jogja
Pak Wakhid


Ayo temukan resto Karbakar di aplikasi Googlemaps di bawah ini.





Jumat, 28 Juli 2017

Masjid Pathok Negoro Babadan Banguntapan Bantul


Dwipracaya.com | Selanjutnya setelah berkunjung dari Masjid Pathok Negoro Plosokuning Minomartani Sleman, perjalanan saya tutup dengan mengunjungi Masjid Pathok Negoro Babadan Banguntapan Bantul. Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, merupakan salah satu dari lima Masjid Pathok Negoro Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini memiliki sejarah yang unik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan karena pernah dipaksa di pindahkan oleh pasukan penjajahan Jepang berikut seluruh penduduk yang ada di sekitar lokasi masjid. Karena lokasi tersebut akan dijadikan pangkalan militer oleh pasukan Jepang.

masjid pathok negoro babadan banguntapan
Masjid Pathok Negoro Babadan Banguntapan via http://yogyakarta.panduanwisata.id

Bagaimana agar bisa ke masjid ini?

Jika sobat dwipracaya.com dari Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, berada di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, INDONESIA. Rute untuk menuju ke masjid dari JEC (Jogja Expo Center), dari Jalan raya Janti di depan JEC ada sebuah pohon beringin yang menghadap ke sebuah pertigaan. Salah satu jalan di pertigaan itu bernama Jl. Pathok Negara. Ikut Jalan Pathok Negara hingga sampai di lokasi masjid.

Sejarah berdirinya Masjid Ad Darojat Babadan

Masjid Ad-Darojat Babadan adalah salah satu masjid patok negara yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1774 di atas tanah mutihan atau Sultan ground seluas 120 meter persegi.

Pada zaman penjajahan Jepang tahun 1940, Masjid Ad-Darojat dan masyarakat Babadan dipindah ke Desa Babadan baru di Jl. Kaliurang KM-7, Kentungan, Sleman. Perpindahan ini dikarenakan saat itu daerah Babadan terkena pelebaran pangkalan pesawat terbang dan sebagai gudang senjata. Akibat perpindahan tersebut denyut kampung Babadan sebagai kampung santri sempat mengalami tidur panjang. Akibat perpindahan yang dilakukan oleh Jepang tersebut, masjid Pathok Negoro tersebut menjadi tak terurus.

Saat terjadi pengusiran oleh Jepang, memang tidak semua penduduk ikut boyong ke Kentungan. Sebagian warga Babadan tetap tinggal di kampung halamannya. Setelah ditinggalkan warga, masjid ini hanya tersisa fondasi dan temboknya saja. Hal ini dikarenakan seluruh konstruksi kayu masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di Babadan Kentungan.

masjid pathok negoro babadan baru sleman
Masjid Pathok Negoro Babadan Baru Sleman
Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2 yang akhirnya seluruh personil dan tentaranya meninggalkan Indonesia, secara otomatis pembangunan perluasan pangkalan udara pun urung dilaksanakan. Sekitar tahun 1950-an mulai banyak masyarakat yang datang ke kampung Babadan dan akhirnya menetap di sana.(http://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Pada tahun 1960-an salah seorang warga Babadan bernama Muthohar mempunyai niat untuk membangun kembali masjid peninggalan Sultan Hamengkubuwono I tersebut. Pembangunan kembali masjid tersebut dilakukan semasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Atas dukungan Sultan maka nama Sultan Hamengku Buwana IX "Ndoro Jatun" diabadikan menjadi nama masjid Pathok Negoro tersebut dengan nama Masjid Ad-Darojat.

Baca Juga:
Masjid Pathok Negoro Plosokuning Minomartani
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul


Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun bentuk khas sebagai masjid kraton masih tetap dipertahankan. Seperti pada masjid Pathok Negoro lainnya, di sisi barat masjid adalah pemakaman tempat bersemayam para tokoh agama maupun masyarakat setempat. Masjid “pindahan” di Desa Babadan Baru masih bertahan hingga kini dan diberi nama Masjid Sultan Agung.

Karena latar belakang sejarah demikian ini, antara warga Babadan dengan Babadan Baru Kentungan meskipun terpisah secara geografis namun tetap terjalin hubungan yang harmonis. Setiap tahun menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak warga Babadan Baru yang datang ke Babadan untuk menggelar acara tradisi nyadran. Silaturahmi setiap kegiatan nyadran tersebut berlanjut saat Lebaran Idul Fitri tiba, karena banyak juga diantara mereka yang masih merupakan saudara sedarah.

Bagaimana kondisi bangunan dan ruangannya?

Pertama kali masjid ini dibangun pada tahun 1774, arsitektur Masjid Ad-Darojat sama persis dengan ketiga masjid Pathok Negoro lainnya. Kesamaan bentuk masjid tersebut terlihat hampir di semua bagian. Bangunan ruang utama masjid menggunakan konstruksi joglo dengan empat soko guru dan terdapat pawestren disampingnya. Serambi masjid menggunakan konstruksi bentuk limasan serta terdapat kolam di sebelah timur masjid sebagai tempat bersuci sebelum memasuki masjid, di depan masjid juga terdapat pohon kepel.
masjid pathok negoro babadan banguntapan bantul
Tampak dari depan
masjid pathok negoro babadan banguntapan bantul
Plang resmi dari Kraton Yogyakarta
Dikarenakan pengusiran oleh Jepang pada tahun 1940-an, bersamaan dengan boyongnya penduduk Babadan ke Kentungan, seluruh bangunan masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di daerah Kentungan. Tempat tersebut kemudian diberi nama Kampung Babadan Baru. Baru pada tahun 1960-an bekas lokasi masjid di Babadan kembali dibangun.

Pada pembangunan awal di tahun 1964, bentuk masjid masih semi permanen. Baru pada tahun 1988 dibangun kembali serambi tengah dengan sumber dana dari pemerintah dan swadaya masyarakat. Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun ciri khas sebagai Masjid Pathok Negoro tetap dipertahankan, seperti mustoko masjid yang masih disimpan dengan baik. Baru pada tahun 1992 bangunan induk utama dibongkar kembali dan disarankan agar disesuaikan seperti bentuk semula yakni joglo yang berasal dari kayu jati.
masjid pathok negoro babadan banguntapan bantul
Pilar peyangga masjid
masjid pathok negoro babadan banguntapan bantul
Pilar peyangga masjid
Pada tahun 1993 pembangunan ruang utama masjid berhasil dilakukan dengan membangun joglo dengan 4 soko guru masing-masing setinggi 7 meter. Pembangunan kelengkapan masjid seperti serambi depan, gerbang masuk, serta tempat wudhu dan wc dilakukan pada tahun 2001. Atas kesepakatan para tokoh agama setempat pada tahun 2003, mustoko yang asli yang terbuat dari tanah liat tidak jadi dipasang dan diganti dengan mustoko dari kuningan. Meskipun demikian mustoko yang asli sampai sekarang masih tersimpan dengan baik di Masjid Ad-Darojat.

Untuk parkir kendaraan jangan khawatir, tempat parkir luas, cukup untuk kendaraan roda 4 (empat) atau armada bus sekalipun. Tempat wudhu juga bersih dan terawat, di dalam masjid ruang utama akan melihat 4 (empat) tiang peyangga utama yang masih kokoh, di depannya ada ornamen khas keraton Yogyakarta membuat cantik ruangan masjid. Bangunan nya masih sangat bagus dan terawat, jika sholat di tempat ini adem banget rasanya pengen lama-lama di sini. #beneran


Ayo temukan Masjid Pathok Negoro Ad Darojat Babadan Banguntapan di aplikasi Googlemaps di bawah ini.



Masjid Pathok Negoro Plosokuning Minomartani Sleman

Dwipracaya.com | Selanjutnya setelah berkunjung dari Masjid Pathok Negoro Mlangi segera saya ke wilayah utara timur yakni Masjid Pathok Negoro Plosokuning di Jl. Plosokuning Raya Nomor 99, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman Yogyakarta. Letak masjid ini sekitar 9 km arah utara dari Kraton Yogyakarta.

masjid pathok negoro plosokuning minomartani
Masjid Pathok Negoro Plosokuning Minomartani Sleman
masjid pathok negoro ploso kuning minomartani sleman
Jalan menuju masjid dari arah timur

Bagaimana agar bisa ke masjid ini?

Jika sobat dwipracaya.com dari jalan Kaliurang km 9, sebelum pertigaan lampu merah ada pertigaan, belok ke arah kanan lurus saja ikuti jalan raya ke arah timur.

Lurus hingga menemukan tugu petunjuk jalan, cari arah Minomartani (belok kanan arah selatan), ikuti jalan itu nanti akan menemukan monumen patung Ikan Lele sangat besar. Segera ambil belok kiri, dah Masjid Pathok Negoro Plosokuning sudah terlihat di kiri jalan.

Sejarah berdirinya Masjid Mlangi

Masjid Pathok Negoro Plosokuning didirikan semasa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono III yang 1812-1814. Beliau adalah ayahanda Pangeran Diponegoro, ketika Kyai Raden Mustafa (Hanafi I) menjadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berkedudukan di Plosokuning.

Nama Plosokuning sendiri diambil dari nama pohon Ploso yang mempunyai daun berwarna kuning. Dulu, letak pohon ini kira-kira 300 meter sebelah timur masjid, namun sekarang sudah tidak ada. Satu hal yang menarik dari desa ini. Hingga sekarang daerah di sekitar masjid, hanya ditempati oleh orang-orang yang masih memiliki garis keturunan dengan Kyai Mursodo. Daerah di sekitar masjid dikenal dengan sebutan daerah Mutihan yang mempunyai arti sebagai tempat tinggal orang-orang putih atau santri. Daerah di sekitar masjid yang disebut daerah Mutihan juga disebut sebagai daerah Ploso Kuning Jero, yang hanya ditempati oleh orang yang mempunyai ikatan darah dengan pendiri masjid. Sedangkan daerah yang agak jauh dari masjid disebut Ploso Kuning Jobo.

Sebagai salah satu masjid pathok Negoro, di masjid Plosokluning juga ditempatkan abdi dalem kemasjidan. Abdi dalem yang menjalankan tugas di masjid Plosokuning dengan fungsi masing masing sebagai Khotib, Muadzin, Jajar Jama'ah, Jajar Ulu-ulu (penghulu) dan Jajar Merbot. Kesemua fungsi tersebut di emban oleh andi dalem bergelar Raden.

Keaslian Masjid Pathok Negoro Plosokuning dapat terlihat pada bagian atap dimana di atasnya terdapat mahkota gada bersulur yang terbuat dari tanah liat yang sampai sekarang masih terpasang di puncak atap masjid. Dulu, penutup atap masjid menggunakan sirap namun atap sirap ini kemudian diganti dengan genteng pada tahun 1946.

Pada bagian lantai masjid dahulu diplester biasa dengan menggunakan semen merah, kemudian pada tahun 1976 lantai masjid ini diganti dengan tegel biasa. Begitu juga dengan daun pintu dan temboknya dilakukan penggantian pada tahun 1984. Dulu tembok dinding masjid setebal 2 batu, namun karena terkikis terus menerus sekarang tinggal 1 batu. Dahulu pintu masjid hanya ada satu dan sangat rendah yang menyebabkan ruang masjid menjadi gelap. Pintu yang rendah ini dimaksudkan agar setiap orang yang masuk masjid hendaknya menunduk dan menunjukkan rasa tatakrama serta sopan santun terhadap masjid. Keadaan demikian menyebabkan ruangan di dalam masjid menjadi gelap, sehingga pada tahun 1984 ditambah pintu masuk masjid menjadi 3 bagian serta ditambah jendela di ruang dalam masjid.

Semua penambahan dan perbaikan bangunan pada masjid, terlebih dahulu dimintakan persetujuan dari Sinuhun Kanjeng yang berada di kraton, baik mengenai bentuk dan modelnya. Beberapa tahun terakhir, takmir masjid mengadakan perbaikan dan penambahan ruang yang ada di samping kanan dan kiri masjid. Hal ini bertujuan agar kegiatan pengajian dan tadarus dapat berlangsung nyaman sekaligus untuk menambah shaf putri. Pada ruang dalam masjid terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penahan konstruksi atap. Semua tiang penyangga ini sebagian besar masih asli dan terbuat dari kayu jati.

Tahun 2000 Masjid Plosokuning mengalami renovasi pada 4 tiang utama dan beberapa elemen lainnya. Pada tahun 2001, masjid ini kembali mengalami renovasi pada bagian serambi dan tempat wudhu. Renovasi ini dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Pada tahun tersebut masyarakat secara swadaya juga mengganti lantai tegel masjid dengan keramik, memasang konblok di halaman serta mendirikan menara pengeras suara. (http://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Bagaimana kondisi bangunan dan ruangannya?

Ketika pertama kali mau memasuki area masjid akan melewati gapura besar tegak menantang,berwarna putih. Kemudian depan serambi masjid di kelilingi oleh kolam, pas saya lihat ada ikannya juga warna-warni. Ada kejadian yang unik waktu itu, karena ada tikar yang sedang dicuci sore itu. Uniknya tikar hanya langsung di taruh saja di kolam itu. Seperti hanya dibiarkan saja gitu, padahal kalau ditempat kampungku kalau mau mencuci tikar ya harus di sungai, dicuci pakai detergen biar harum. Saya sempat kaget juga, kok lucunya. Hahaha :)

masjid pathok negoro plosokuning minomartani
Tikar yang sedang dicuci
masjid pathok negoro plosokuning minomartani sleman
Pintu gerbang masjid
masjid pathok negoro plosokuning minomartani sleman
Bedug
masjid pathok negoro plosokuning minomartani sleman
Kentongan
Masjid Pathok Negoro Plosokuning merupakan salah satu dari lima masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Didirikan di atas tanah kasultanan seluas 2.500 m2. Bangunan masjid pada saat didirikan seluas 288 m2 dan setelah pengembangan menjadi 328 m2. Diantara kelima masjid Pathok Negoro milik Kraton Yogyakarta, Masjid Pathok Negoro di Plosokuning adalah bangunan yang paling terjaga kelestariannya.

Baca Juga:
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping
Masjid Pathok Negoro Babadan Banguntapan

Masjid Pathok Negoro didirikan setelah pembangunan masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid tersebut meniru masjid Agung sebagai salah satu usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta. Persamaan ini juga didukung oleh beberapa komponen yang ada di dalamnya seperti mihrob, kentongan dan beduk.

Masjid Pathok Negoro mempunyai ciri beratap tajuk dengan tumpang dua. Mahkota masjid juga mempunyai kesamaan yakni terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap. Perbedaan jumlah tumpang menandakan bahwa masjid pathok negoro lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta yang mempunyai atap tajuk bertumpang tiga. Ciri-ciri lain dari kekhasan masjid Pathok Negoro ini adalah pada masing-masing masjid terdapat kolam keliling, pohon sawo kecik dan terdapat mimbar yang ada di dalam masjid.

masjid pathok negoro plosokuning minomartani sleman
Tiang peyangga masjid
masjid pathok negoro plosokuning minomartani
Kayu yang sudah sangat tua
Dalam perkembangan saat ini, arsitektur tradisional telah banyak mengalami perubahan dan salah satu penyebab semua itu adalah masuknya arsitektur modern di Indonesia. Hal di atas juga berpengaruh terhadap Masjid Pathok Negoro yang ada. Dari kelima masjid yang ada, hanya Masjid Pathok Negoro di Plosokuning saja yang sampai saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya.
masjid pathok negoro plosokuning minomartani
Pintu gerbang masjid sebelah selatan

masjid pathok negoro plosokuning minomartani
Sejauh apapun jarak yang kau tempuh, selalu sempatkan untuk ke masjid
masjid pathok negoro plosokuning minomartani
Masjid Pathok Negoro Plosokuning

Ayo temukan Masjid Pathok Negoro Plosokuning Minomartani Sleman di aplikasi Googlemaps di bawah ini.




Kamis, 27 Juli 2017

Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman

Dwipracaya.com | Selanjutnya setelah berkunjung dari Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan segera saya ke wilayah barat yakni Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman. Masjid ini terletak di Mlangi, Kelurahan Nogotirto Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Konon masjid ini merupakan masjid pathok negoro yang pertama kali dibangun. Masjid ini dibangun pada tahun 1758 oleh Kyai Nur Iman.

masjid pathok negoro mlangi gamping sleman
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman
Gapura pintu masuk masjid


Bagaimana agar bisa ke masjid ini?

Jika sobat dwipracaya.com dari perempatan Demak Ijo, dari perempatan lampu merah itu lurus ke arah utara. Lurus saja melewati jalan Ringroad Barat. Lebih kurang 2 km akan menjumpai Rumah Sakit Queen Latifa, ada jalan ke arah barat di depan rumah sakit itu, belok kiri. Masuk ke arah barat. Ikuti petunjuk yang ada atau yang dipasang di tembok atau rambu-rambu. Sudah dibuatkan khusus bagi para wisatawan religi. Diharapakan ketika mengunjungi masjid Mlangi ini harap memakai pakaian yang sopan, menutup aurat. Mengingat adab dan budaya agama Islam begitukental jika memasuki area Mlangi. Tak heran nanti akan melihat pemandangan anak kecil atau pria dewasa siang hari memakai kain sarung sedang melakukan aktifitas biasa.

Sejarah berdirinya Masjid Mlangi

Nama Mlangi tak lepas dari sosok Kyai Nur Iman. Kyai Nur Iman / RM. Sandeyo/ KGHP. Kertosuro adalah putra dari RM. Suryo Putro/ Amangkurat Jawa / Amangkurat IV, Raja Mataram (Islam) yang berkuasa antara tahun 1719-1726, dari Istri pertamanya. Beliau lahir dan dibesarkan di Pondok Pesantren Gedangan asuhan Kyai A. Muhsin.

Kyai M. Nur Iman juga merupakan kakak dari 3 Raja di 3 Kerajaan Jawa yaitu Pangeran Sambernyowo / RM. Said/ Adipati Mangkunegara I (penguasa pertama Puro Mangkunegaran), Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono/ Sultan Hamengku Buwana I (Sultan pertama Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat) dan Susuhunan Pakubuwono III (penguasa pertama Keraton Surakarta)

Kyai Nur Iman sudah lama membina pesantren di Jawa Timur diberi hadiah sebidang tanah oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tanah itulah yang kemudian dinamai 'mlangi', dari kata bahasa Jawa 'mulangi' yang berarti mengajar. Dinamai demikian sebab daerah itu kemudian digunakan untuk mengajar agama Islam.

Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II (yang merupakan keponakan dari Kyai Nur Iman), Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman, di samping keraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari

4 (empat) masjid tersebut adalah :
- di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi, 
- di sebelah Timur terletak di desa Babadan, 
- di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning, 
- di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.

Pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :

Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo, Masjid Babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari, Masjid Dongkelan diurus oleh Kyai Hasan Besari, Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri. Masjid-masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton. (http://bujangmasjid.blogspot.co.id)

Bagaimana kondisi bangunan dan ruangannya?

Saat ini bangunan masjid tersebut telah berubah. Semua komponen bangunan tersebut merupakan material baru. Dijelaskan oleh Sri Pujo, bangunan masjid yang saat ini berdiri merupakan hasil renovasi tahun 2012. Renovasi dilakukan oleh Pemerintah untuk mengembalikan bentuk asli Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman.

Baca Juga:
Masjid Pathok Negoro Babadan Banguntapan Bantul

Berdasarkan keterangan Sri Pujo, pada tahun 1955 pihak Keraton Yogyakarta menyerahkan pengelolaan masjid kepada masyarakat Mlangi. Pada tahun 1988 pengurus masjid melakukan renovasi untuk menambah daya tampung jamaah. “Karena jumlah jamaah yang terus bertambah maka pengurus masjid memutuskan untuk memperbesar masjid," tambah Sri Pujo.

Di dalam masjid masih terdapat mimbar, bedug dan kentongan. Bedug dan kentongan merupakan replika, kedua benda tersebut dibuat sama persis dengan bedug dan kentongan pada masa Kyai Nuriman.
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman
Bedug dan Kentongan
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman
4 (empat) tiang peyangga utama
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman
Serambi masjid depan
Saat ini wilayah Mlangi dikenal sebagai daerah santri di Yogyakarta. Terdapat 9 (sembilan) pondok pesantren di wliyah tersebut. Seluruh pondok pesantren tersebut diasuh oleh keturunan Kyai Nuriman.

Saat ini wilayah Masjid Pathok Negoro Mlangi menjadi salah satu tujuan wisata Religi. Banyak peziarah yang mendatangi makam Kyai Nur Iman dan masjid Pathok Negoro. “Jika hari Jum’at banyak orang yang berziarah ke Makam Kyai Nuriman, terlebih pada bulan Ruwah. Peziarah merupakan anak keturunan Kyai Nur Iman dan dan orang yang pernah nyantri di Mlangi," ungkap Sri Pujo. Peziarah tidak hanya datang dari sekitaran Yogyakarta, banyak juga peziarah yang berasal dari luar Jawa. (http://bujangmasjid.blogspot.co.id).

Ada kolam kecil yang berada di depan serambi masjid, fungsinya adalah untuk membersihkan kotoran yang menempel di kaki pengunjung atau peziarah. Harapannya adalah ketika peziarah dan pengunjung mau masuk ke masjid tak ada kotoran di kaki yang menempel.
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman
Kolam depan serambi masjid
Untuk lahan parkir cukup mudah jika memakai kendaraan roda 4, karena kompleks bangunan masjid cukup luas. Area parkir cukup luas di bagian timur masjid ini, karena sudah sering untuk dipakai para peziarah parkir menggunakan armada bus misalnya. So, sobat dwipracaya.com tak usah khawatir jika mau memparkir kendaraan, #simple.

Ayo temukan Masjid Pathok Negoro Mlangi Sleman di aplikasi Googlemaps di bawah ini.

Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul

Dwipracaya.com | Selanjutnya setelah berkunjung dari Masjid Pathok Negoro Taqwa Wonokromo, desinasi selanjutnya adalah Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Yogyakarta. Berada di dusun Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Memang dari ke 5 masjid pathok negoro, masjid Dongkelan yang cukup lama dalam menemukannya. Mengingat hanya berbekal informasi dari internet dan lewat aplikasi Googlemaps, harus tanya beberapa kali untuk sampai ke tempat ini. Lokasi di aplikasi Googlemaps juga sempat membingungkan, tak sesuai dengan kondisi lapangan. Haha, mblusuk yo ra popolah.

masjid pathok negoro kauman dongkelan bantul
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul (tulisan Jawa)
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul (Logo Keraton Yogyakarta)


Bagaimana agar bisa ke masjid ini?

Jika sobat dwipracaya.com dari perempatan Dongkelan (cari di Googlemaps). Lurus ke barat sampai menjumpai perempatan pertama, di sebelah utara lampu merah ada toko Pujha, barat toko ini adalah bangunan Masjid Miniatur Baiturrahman Aceh. Belok kanan lurus ke arah dusun Keloran. Akan menjumpai pertigaan pertama (ada tugu tulisan Keloran).Setelah itu belok kanan ke arah timur, ada perempatan pertama (kecil) masih lurus saja sampai mentok jalan. Dari situ belok ke kiri sedikit nanti ada gapura juga warna putih. Masuk aja ke arah timur ikuti jalan itu, bangunan masjid ada di sebelah kanan, atau selatan jalan, timur makam warga.

Sejarah berdirinya Masjid Nurul Huda Kauman Dongkelan

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan didirikan pada tahun 1775, bersamaan dengan dibangunnya serambi Masjid Gedhe Kauman. Pendirian masjid ini merupakan penghormatan terhadap Kyai Sayihabuddin atau Syeh Abuddin atas jasa-jasanya terhadap Sultan Hamengkubuwono I ketika berkonflik dengan Raden Mas Said atau Sri Mangkunegara yang berjuluk Pangeran Sambernyawa.

Pada saat Sultan Hamengkububowono I menduduki tahta kerajaan, beliau merasa terganggu dengan naik tahtanya Pangeran Sambernyawa dengan gelar KGPAA Mangkunegara I yang merupakan menantunya sendiri.

Sultan ingin mengalahkan menantunya tersebut tetapi tanpa merasa membunuhnya, maka Sultan Hamengkubuwono meminta bantuan Kyai Syihabudin dan menjanjikan posisi patih kepada Kyai Syihabuddin jika mampu mengalahkan Pangeran Sambernyawa.

Baca Juga:
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman

Kyai Syihabuddin mampu menyelesaikan konflik antara Sultan Hamengkubuwono I dan Pangeran Sambernyowo tanpa melukai pangeran Sambernyowo. Tetapi Sultan Hamengkubuwono I tidak bisa memenuhi janjinya untuk menjadikan Kyai Syihabuddin menjadi patih karena pada saat itu posisi tersebut telah ditempati Tumenggung Yudanegara.

Kemudian Kyai Syihabuddin diangkat menjadi penghulu keraton yang pertama, tetapi beliau menjabat tidak lama karena kecewa terhadap Sultan Hamengkubuwono I. Karena kekecawaanya tersebut Kyai Syihabuddin mendapat julukan Kyai Dongkol (dalam bahasa Indonesia: kecewa). Karena perubahan ucapan, nama Kyai Dongkol berubah menjadi Kyai Dongkel, kemudain tempat tinggal beliau disebut Dongkelan.

Dijelaskan oleh Muhammad Burhanudin, selaku Abdi Dalem Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan, Kyai Syihabuddin adalah orang yang yang ahli fiqih, oleh karena itu oleh Sultan Hamengkubuwono I beliau diangkat menjadi pajabat Pathok Negoro.

“Karena diangkat menjadi pejabat Pathok Negoro, maka beliau dibuatkan masjid Pathok Negoro. Sebelumnya Kyai Syihabuddinn bertempat tinggal di timur sungai Winongo, tetapi sarat pembanngunan masjid Pathok Negara tidak boleh sejajar dengan keraton, maka beliau pindah ke barat sungai Winongo,” terang Burhanudin.

Pada saat itu masjid yang berada di wilyah Dongkelan Kauman, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul ini menyerupai bangunan masjid Gede Kauman. Terdapat kolam di halaman masjid, kuburan yang terletak di barat masjid, beduk, beserta perangkat pegawai yang bertugas mengurusi masjid.

Dijelaskan oleh Burhanudin, Masjid Pathok Negoro Dongkelan pernah dibakar habis oleh pihak Belanda semasa perang Diponegoro pada tahun 1825. “Pada saat itu yang tersisa hanya batu penyangga tiang masjid (umpak),” terang Burhanudin. Setelah dibakar, masjid tersebut dibangunn kemabali dengan sanagat sederhana. Atap masjid hanya terbuat dari ijuk dengan mustaka dari tanah liat.

Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, masjid tersebut dibangun kembali pada tahun 1901. Bentuk bangunan masjid dibuat seperti semula. Kemudian pada tahun 1948 dilakukan pembangunan serambi masjid. (tribunjogja.com)

Bagaimana kondisi bangunan dan ruangannya?

Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Tempat Imam Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul

Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Pilar 4 (empat) tiang utama masjid

Masjid Pathok Negoro Kauman  Dongkelan ini lokasi tepat di timur makam, saya sempat mengobrol dengan salah satu warga setempat. Bahwa tak banyak orang yang tahu bahwa di dalam makam tersebut ada tokoh luar biasa dan hebat. Ada makam dari KH. Munawwir, salah satu guru dan ulama di Yogyakarta yang memiliki pondok pesantren di Krapyak Yogyakarta.

Bangunan masjid ini lebih kecil dari masjid pathok negoro Taqwa Wonokromo. Beralaskan ubin khas keraton. Ada tiang penyangga di dalam masjid, 4 katu tiang peyangga yang sangat kokoh. Ada mimbar yang terletak di sebelah kanan tempat pengimaman. Kalau mau lihat makam dari KH. Munawwir juga terlihat lewat jendela dari masjid ini. Tempat wudhu juga standarlah, hampir sama dengan masjid-masjid yang lainnya. Ada juga alat komunikasi bedhug yang diletakkan di serambi berwarna cokelat itu. Sepertinya serambi masjid baru dipugar mengingat terlihat bangunan serambi seperti baru, dan sudah dikonfirmasi sama salah satu bapak di situ bahwa memang masjid pathok negoro Dongkelan mendapat apresiasi dari pemerintah Kota Jogjakarta. Mustoko masjid juga masih sama dengan masjid Gedhe Kauman, ya sepeti itulah #banyangkan sendiri.
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Suasana di dalam ruangan dalam masjid
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Bedug masjid yang masih digunakan
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Serambi masjid baru saja dipugar
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan Bantul
Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan tampak dari utara

Untuk lahan parkir cukup mudah jika memakai kendaraan roda 4, karena kompleks bangunan masjid cukup luas. Diarea masjid ini juga cukup luas baik untuk parkir atau kegiatan yang lain.

Ayo temukan Masjid Pathok Negoro Kauman Dongkelan di aplikasi Googlemaps di bawah ini.

Masjid Pathok Negoro Taqwa Wonokromo Pleret Bantul

Dwipracaya.com | Pada kesempatan ini saya ingin mengulas tentang salah satu masjid bersejarah, khususnya dalam cikal bakal Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Masjid Pathok Negoro begitulah warga masyarakat menyebutnya, disebut 'pathok negoro karena memang salah satu tujuan didirikan masjid adalah sebagai pos terluar dari batas Kasultanan Ngayogyakarto pada waktu itu. Salah satu dari Masjid Pathok Negoro di bagian selatan adalah Masjid Taqwa Wonokromo. Lokasi masjid berada di dusun Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.

masjid pathok negoro wonokromopleret bantul
Masjid Pathok Negoro Wonokromo Pleret Bantul
masjid pathok negoro wonokromo pleret bantul
Masjid Pathok Negoro Wonokromo Pleret Bantul
Bangunan Masjid Taqwa menempati tanah putih seluas 5000 meter persegi dengan luas bangunan saat didirikan seluas 420 meter persegi dan setelah dilakukan pengembangan hingga saat ini menjadi 750 meter persegi. Bagian serambi masjid seluas 250 meter persegi, ruang perpustakaan seluas 90 meter persegi dan halaman seluas 4000 meter persegi.

Bagaimana agar bisa ke masjid ini?

Jika dari terminal Giwangan Yogyakarta, lurus ke arah selatan. Sampai menjumpai perempatan lampu merah pertama (perempatan Jejeran). Dari perempatan tersebut lurus lebih kurang 800 meter. Setelah belokan pertama, sebelum jembatan kecil ada bangunan gapura besar di sebelah kiri jalan. Belok kiri lalu ikuti saja ke arah timur, sampai ada tembok, lurus saja dan belok kanan, bangunan masjid sudah terlihat begitu megahnya.

Sejarah berdirinya Masjid Taqwa Wonokromo

Sejarah berdirinya tidak terlepas dari seorang tokoh yang bernama Kyai Mohammad Faqih yang merupakan menantu dari Ki Derpoyudo dari putri pertamanya dan merupakan Kakak ipar Sri Sultan Hamengku Buwono I yang merupakan menantu dari Ki Derpoyudo dengan putri keduanya. Ki Muhammad Faqih seorang guru agama Islam yang menasehatkan agar Sultan mengangkat orang orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti yang disebut ‘Pathok.

Baca juga: 
Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan 
Masjid Pathok Negoro Mlangi Gamping Sleman

Akhirnya Ki Muhammad Faqih di angkat sebagai kepala ‘Pathok tersebut dan dianugrahi tanah di sebelah selatan Ketonggo yang berupa alas awar-awar, dan dibangunlah masjid kecil ditempat tersebut dengan nama ‘Wa Ana Karoma yang berarti Agar Mulya Sungguh sungguh. Ki Muhammad Faqih disebut juga Kyai Sedo Laut yang berarti meninggal dilaut. Beliau wafat saat menunaikan haji dan kapalnya karam di selat Malaka, sedangkan putranya KH Abdullah terdampar di selat Malaka. (www.onthelpotorono.wordpress.com)

Pada awalnya bentuk bangunan masjid Taqwa berbentuk kerucut dengan mustaka dari kuwali tanah liat, serambi bentuk limasan dengan satu pintu didepan, bahan dari bambu, atap dari welit berupa anyaman ilalang, dinding dari anyaman bambu atau gedhek, tempat wudhu dari padasan ditempatkan disisi utara dan selatan halaman masjid. Pada tahun 1867 atap diganti dengan genteng, kemudian dinding dari batu bata, serta lantai campuran dari gamping dan tumbukan bata merah serta pasir.

Tahun 1913 kembali mengalami perombakan berupa penggantian kerangka bambu diganti dengan kerangka kayu nangka.
Dan setelah mengalami beberapa kali renovasi akhirnya secara total pada tahun 1986 setelah mendapat bantuan dari presiden RI dibangun dengn konstruksi beton bertulang, dengan tidak meninggalkan corak kejawennya sesuai surat perintah dari Keraton. Termasuk pemilihan warna cat yang berupa komposisi hijau, kuning, merah dan kuning emas (prodo). Hal ini dikarena warna warna tersebut mempunyai filosofis yang dalam. Pada tahun 2003 kembali mendapat bantuan dari Dinas pariwisata Yogyakarta dan dipergunakan untuk pembangunan gedung pertemuan di bagian utara serambi masjid serta menghidupkan kembali kolam di depan sisi kiri dan kanan serambi masjid.

Bagaimana kondisi bangunan dan ruangannya?

Masjid At Taqwa Wonokromo lebih cenderung berwarna khas keraton, warna hijau dikombinasikan tambahan warna merah dan kuning. Di depan serambi masjid ada aliran air, yang digunakan untuk menghilangkan kotoran (kaki) jika ingin memasuki masjid. Bangunan mustoko, kepala masjid juga khas keraton tidak seperti kerucut. Yah, hampir mirip dengan masjid keraton gitu, seperti masjid Gede Kauman Yogyakarta.

Tempat wudunya juga bersih, dan harum. Pertama kali ke situ kesan pertama dari kompleks bagunan masjid ini adalah sejuk, adem dan bersih. Seanjutnya untuk serambi masjid juga sangat bersih dan terawat. Masih ada alat bedug yang digunakan untuk memanggil para jamaah ketika waktu sholat tiba. Terletak di serambi masjid, pojok sendiri di bagian selatan serambi.

masjid pathok negoro wonokromo pleret bantul
Masjid Taqwa Wonokromo Pleret Bantul
masjid pathok negoro wonokromo pleret bantul
Warna hijau warna khas keraton Yogyakarta
masjid pathok negoro wonokromo pleret bantul
Tempat wudhu masjid Taqwa Wonokromo
masjid pathok negoro wonokromo pleret bantul
Serambi masjid Taqwa Wonokromo
masjid pathok negoro wonokromo pleret bantul
Lampu hias masjid khas keraton Yogyakarta
masjid pathok negoro wonokromo pleret bantul
Pilar utama yang berjumlah empat
masjid pathok negoro wonokromo pleret bantul
Bedug masjid Taqwa Wonokromo


Masuk ruangan ke dalam masjid Taqwa Wonokromo, karena pada waktu itu tak dikunci. Lantainya adem, di dalamnya ada tiang berjumlah 4 (empat) besar sekali. Ada juga lampu hias di dalam masjid yang menambah nuansa keraton Yogyakarta di dalam masjid ini. Sangat bersih dan nyaman jika sobat dwipracaya.com bisa sholat di sini.

Untuk parkir kendaraan jangan khawatir, karena memang lahan parkir masjid Taqwa Wonokromo super luas. Jadi mau parkir pakai kendaraan roda 4 atau kendaraan lainnya ok, tak masalah.

Asal usul nama Masjid Taqwa Wonokromo

Banyak sejarah yang memberikan penjelasan tentang asal usul nama masjid Taqwa Wonokromo, di sini saya ingin menyampaikan dari beberapa sejarah yang sering diceritakan. Sejak masjid ini didirikan oleh Kyai Muhammad Faqih, masjid ini tidak ada namanya. Saat itu, masyarakat mengenalnya dengan sebutan masjid Wonokromo. Pada saat kepengurusan masjid dipegang oleh Kyai Makmun, masjid diberi nama Masjid Taqwa, bukan Masjid at-Taqwa.
Ada argumen yang diberikan Kyai Makmun kenapa masjid ini diberi nama masjid Taqwa dan bukan Masjid at-Taqwa. Kata taqwa adalah bentuk ‘isim nakiroh, yang mengandung pengertian umum untuk siapa saja. Siapa saja dari tingkatan kyai sampai dengan tingkat orang awam sekalipun boleh beribadah di masjid ini, tak ada bedanya dengan siapa pun. Termasuk yang boleh masuk ke masjid ini tidak hanya warga Wonokromo, tapi juga warga lainnya. Lain dengan kata at-Taqwa dalam bentuk isim ma'rifah, yang mengandung pengertian khusus, bahwa yang boleh masuk masjid hanya para kyai saja. Atau masjid ini hanya khusus untuk warga Wonokromo saja.

Pemberian nama ini dilakukan secara resmi dengan membuka selubung papan nama yang lakukan oleh Kyai Makmun, selubung papan nama Masjid Taqwa pada saat itu digantung di kanopi di serambi masjid.

Ayo temukan Masjid Taqwa Wonokromo di aplikasi Googlemaps di bawah ini.

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html