Senin, 18 Februari 2019

[Review Buku] Ayah Kisah Buya Hamka

Ayah – Sebuah novel karya Irfan Hamka yang diterbitkan oleh Republika Penerbit pada Mei 2013. Novell setebal 324 halaman menceritakan tentang kehidupan seorang Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dari masa muda, dewasa, menjadi ulama, sastrawan, politisi, kepala rumah tangga, sampaii ajal menjemputnya. Diceritakan langsung oleh putra kandung Buya Hamka yakni Irfan Hamka, anak kelima dari 12 bersaudara. Menggunakan bahasa yang santai dan mengalir, penulis menceritakan sosok Buya Hamka yang notabene adalah ayah kandungnya sendiri. Pembaca akan dibuat menjadi lebih dekat dengan sosok Buya Hamka.


Judul : Ayah (Kisah Buya Hamka)

Penulis : Irfan Hamka

Penerbit : Republika

Tahun Terbit : Mei 2013

ISBN : 9786028997713

Tebal : 324 Halaman


Buya Hamka adalah sosok sebuah nama dengan berjuta catatan sejarah yang tertoreh pada setiap muslim di Indonesia. Baik bagi mereka yang pernah hidup di masa beliau, atau mereka masih kecil sehingga belum mengenal sosok Buya Hamka sebelumnya, bahkan untuk mereka yang memang belum pernah bersua dan tidak mengena Buya Hamka sama sekali.

Buya Hamka adalah sosok ulama besar Indonesia yang pernah memimpin pergerakan melawan penjajah Belanda di bumi Sumatera. Pada saat masa kemerdekaan ataupun setelah kemerdekaan.

Buya Hamka adalah ulama yang sangat toleran dalam kehidupan, baik berumah tangga atau sebagaii kapasitas ulama besar. Beliau sangat kuat ketika berbicara dalam hal menjaga akidah. Beiau sangat kuat dalam memegang prinsip. Saat menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pertama, dengan berani beliau mengeluarkan fatwa yang sangat fenomenal yakni fatwa "Haram bagi umat Islam yang merayakan Natal bersama. Fatwa tersebut juga menjadi alasan mengundurkan diri dari Ketua Umum MUI karena tidak sejalan dengan Pemerintah yang memintanya untuk membatalkan fatwa tersebut.

Ada kalimat sederhana namun menggelitik ketika Buya Hamka diundang ceramah oleh Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya 73 Jakarta, pada tahun 1969. 


“Kalau tidak suka pada isi sebuah buku, jangan buku itu dilarang tapi

tandingi dengan menulis buku pula -Halaman xxiv”

“Kadang, memang tidak semua pertanyaan harus dijawab, ya Ayah -Halaman 7”



Diceritakan penulis bahwa meskipun sikap Buya Hamka tegas dalam mendidik anak-anaknya namun, beliau tidak pernah memukul anaknya, terutama penulis. Begitu pula dengan kakak dan abang-abangku. Hanya Bang Fachry saja, karena sering rebut dengan Bang Zaki dan anak tetangga – Halaman 43.

Buya Hamka diceritakan penulis pernah menangkap penjahat dalam keramaian, dengan sekali gerakan yang gesit penjahat itu berhasil dilumpuhkan. Menjadi imam sholat berjamaah, menjadi guru mengaji dan menjadi guru silat penulis. Bahkan ada cerita mistisnya yakni ketika Buya Hamka berdamai dengan jin.

“Bagaimana mungkin hasil dari usaha susah payah ini akan kita tinggalkan egitu saja? Kalau perlu kita tempati rumah ini bersama-sama secara damai -Halaman 67.”

Cerita perjalanan Buya Hamka dengan penulis menaikan rukun ke lima yakni ibadah haji dengan menggunakan kapal laut. Banyak sekali peristiwa yang dilaui oleh beliau, seperti menyaksikan pemakaman jemaah haji yang meninggal di kapal. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kapal tersebut.

Ada juga kisah spiritual Buya Hamka dalam menghadapi badai angin topan gurun pasir, dengan segala kerendahan dan keluasan dan ketenangan beliau cukup mengatakan Allah…Allah…Allah, dan keajaiban terjadi. Mereka yang ada di dalam mobil selamat dan angin topan tak menerjang mobil yang ditumpanginya.

Kebiasaan Buya Hamka adalah membaca al qur’an, entah dalam perjalanan menggunakan kapal laut, di dalam mobil serta ketika di tempat tidur pun beliau sempatkan untuk membaca al qur’an. Mengambil al quran kecil yang sering dibawanya.

“Ayah mengambil al qur’an kemudian hanyut membacanya. Salah satu kebiasaan ayah, beliau tak akan berhenti membaca a qur’an sebelum mengantuk. Beliau akan terus membacanya sampai 2-3 jam. Karena itu Ayah bisa menghabiskan 5-6 jam sehari hanya untuk membaca al qur’an."

Ayah kuat sekali membaca al qur’an, Tanya penulis pada suatu kesempatan

Kau tahu Irfan Ayah dan Ummi telah berpuluh-puuh tahun lamanya hidup bersama, tidak mudah Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat 2 rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pirkiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah.” Jawabnya Ayah –Halaman 213

Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah sholat Taubat terlebih dahulu –Halaman 213

Diceritakan bagaimana Ummi yakni Hj. Siti Raham Rasul sepeninggal Buya Hamka dipenjara lebih kurang 2.5 tahun oleh rezim Soekarno dengan fitnah dari PKI yang sampai sekarang tak bisa dibuktikan apa yang dituduhkan kepada beliau. Betapa keras perjuangan dan pengorbanan seorang Ummi waktu itu.



Ada kisah kucing si Kuning yang turut menjadi bagian dari kisah perjuangan Buya Hamka, bahkan si kuning adalah kucing kesayangan Buya Hamka mampu berumur lebih kurang 25 tahun, kalau Buya Hamka berangkat ke masjid untuk sholat selalu bareng dengan si Kuning, dan tampak murung ketika sang Majikan atau yang penolong kali pertama dipanggil sang Khalik.


Dari mereka yang pernah berbuat tidak menyenangkan dan merugikan Buya Hamka

“ Saya ingin bila wafat kelak, Hamka berseida mengimami sholat jenazahku.” Ir. Soekarno

“ Bila saya wafat, tolong Hamka bersedia menemani di saat akhir-akhir hidupku dan ikut mengantar jenazahku ke kampung halaman di Talawi.” Moh. Yamin

“Saya lebih mantap mengirim calon menantuku untuk di Islamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik.” Pramodya Ananta Toer 
-Halaman -317 


Sungguh cerita perjuangan seorang Buya yang dimulai dari masa muda, menjadi ulama besar, serta kedudukan sebagai ulama dan ayah bagi keluarganya. Kesederhanaan dan kasing sayang Buya terhadap si Kuning. Terhadap keluarganya, Tak memiliki sikap dengan bahkan kepada mreka yang pernah berbuat tak baik, Buya Hamka tak ada sikap dendam untuknya.

Sebuah novel buku yang dikemas dengan bahasan sederhana sehingga pembaca akan lebih mengenal Buya Hamka dari ketika jaman muda, hingga saat-saat terakhir beliau.

Bagi yang pernah pernah bertemu dengan Buya Hamka tentu akan mengobati sedikit kerinduan akan ceramah beliau, damainya suara beliau, senyum khas beliau, pakaian namun bagi yang belum pernah bertemu dengan Buya bisa memberikan gambaran nyata bahwa sikap Buya Hamka itu patut untuk teladani semua orang.


Terimakasih Buya Hamka, sudah membuat Indonesia bangga memiliki Engkau. Terimakasih atas karya yang luar biasanya Tafsir Al Qur’an Al Azhar, serta peninggalan karyamu di luar sana nan elok luar biasa.
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html